Berbagai Curahan Perasaan Mahasiswa Farmasi UGM Setelah Jalani Kuliah Daring

1006
Mahasiswa Fakultas Farmasi UGM makin terbiasa berkuliah secara daring (dalam jaringan: online) sejak wabah Corona melanda Indonesia. Foto: Ist
Mahasiswa Fakultas Farmasi UGM makin terbiasa berkuliah secara daring (dalam jaringan: online) sejak wabah Corona melanda Indonesia. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Wabah Corona yang sampai ke Jogja membuat status lingkungan di UGM ditetapkan pada level awas.

Sejumlah kebijakan akhirnya diberlakukan UGM guna mencegah penyebaran wabah.

Salah satunya adalah mengurangi dan meniadakan kelas tatap muka yang ditaati oleh seluruh fakultas.

Termasuk Fakultas Farmasi UGM, yang mulai memberlakukan kuliah daring (dalam jaringan: online) sejak 16 Maret lalu.

Kuliah daring di Fakultas Farmasi UGM diberlakukan berdasarkan Surat Edaran Dekan nomor 1.15.03/UN1/FFA/SETPIM/OT/2020 tentang Kebijakan Perkuliahan dan Praktikum.

Peniadaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kampus menjadi keputusan yang dinilai tepat untuk mengurangi kontak antar-individu.

Selain itu, langkah ini juga menghindarkan diri dari kerumunan massa (Social and Physical Distancing).

Baca juga: Alumnus UGM Jelaskan Hal yang Bisa Dilakukan UMKM Solo Raya agar Bisa Bertahan di Tengah Wabah Corona

Beberapa platform daring yang dapat mendukung KBM dengan bertatap muka di antaranya adalah Webex, Zoom, Skype, Microsoft teams, Googlemeet. Sementara itu, eLisa, Elok, Elearning Farmasetika, Whatsapp Group, digunakan untuk KBM dengan tidak bertatap muka.

Beberapa mahasiswa Fakultas Farmasi UGM pun memiliki berbagai respons atas KBM daring yang telah dijalani sejauh ini.

Salah satunya adalah mahasiswi Prodi Magister Farmasi Klinik angkatan 2019, Nazulanita Rahma.

Nita, panggilannya, mengaku bahwa pembelajaran daring adalah metode yang paling ideal dalam situasi seperti sekarang.

“Asyik dan menyenangkan. Beberapa metode sudah digunakan (WeBex, Zoom, Google Meet) dan berjalan lancar,” kata Nita, melansir laman resmi Fakultas Farmasi UGM.

“Kendala lebih pada jaringan masing-masing,” tuturnya.

Meski mengaku lancar, Nita menilai bahwa terkadang kuliah dan diskusi daring bisa menjadi kurang fokus.

Baca juga: Indonesia Harus Lawan Covid-19 Secara Defensif untuk Meminimalkan Korban Jiwa