KAGAMA Dorong UMKM Perkuat Brand

183
Yuswohady, pakar marketing membabar strategi perkuat brand dalam KAGAMA Inkubasi Bisnis VIII di Lampung. Foto: KAGAMA
Yuswohady, pakar marketing membabar strategi perkuat brand dalam KAGAMA Inkubasi Bisnis VIII di Lampung. Foto: KAGAMA

KAGAMA.CO, BANDAR LAMPUNG – Perubahan landskap di dunia bisnis, terutama customer ditandai dengan adanya #GenerasiMager.

Millenials disebut-sebut telah “membunuh” banyak hal di dunia bisnis.

Hal itu disampaikan pakar marketing, Yuswohady, dalam acara KAGAMA Inkubasi Bisnis (KIB) VIII dengan topik Smart Branding untuk UMKM: Kiat Mengelola Brand dengan Memanfaatkan Media Sosial.

Acara ini diselenggarakan oleh Pengurus Pusat KAGAMA bekerja sama dengan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Lampung pada Sabtu (29/02/2020) di Ruang Pertemuan Kantor BI Lampung.

“Lima tahun lagi dunia akan dikuasai millenial, Gen X akan jadi korban,” papar Yuswohady.

Dia memprediksi pada 2034 dapur akan hilang karena layanan ojek online.

Bila sekarang satu rumah terdapat satu dapur, maka pada tahun 2034 hanya ada satu dapur untuk 1.000 orang.

Yuswohady, pakar marketing membabar strategi perkuat brand dalam KAGAMA Inkubasi Bisnis VIII di Lampung. Foto: KAGAMA
Yuswohady, pakar marketing membabar strategi perkuat brand dalam KAGAMA Inkubasi Bisnis VIII di Lampung. Foto: KAGAMA

Baca juga: Pakar Tata Ruang KAGAMA Paparkan Konsep Transportasi Masa Depan Kota Solo

“Beberapa merk kamera DSLR juga dibunuh milenial karena millenial lebih suka kamera smartphone. Kenapa coffee shop rame karena millenial kerjanya di cafe,” ujarnya.

Selain berbagi, kenyamanan juga identik dengan millenial. Salah satu pusat perbelanjaan ternama di bilangan Kasablanka Jakarta ramai diserbu milenial karena  menawarkan kenyamanan.

“Kenapa kafe X ramai diserbu milenial padahal cuma jualan mie instan, karena yang dijual bukan hanya mie instan, tetapi kenyamanan, bisa bekerja bisa internetan gratis,” ujarnya.

Yuswohady mengatakan, salah satu ciri milenial adalah sharing. Jika segala hal bisa didapatkan dengan berbagi, milenial tentu berpikir ulang untuk memiliki barang sendiri.

Dia berkaca pada milenial yang kini tidak lagi tertarik punya mobil atau motor sendiri, tetapi lebih suka menggunakan ojek online.

Untuk itu, Yuswohady menyarankan agar para marketer sudah seharusnya memahami tentang brand equity ladders, suatu aset yang memberikan nilai tersendiri bagi konsumennya.

Ada lima kategori brand equity ladders, di antaranya brand awareness, brand association, preceived quality, brand loyalty, dan brand evangelist.

Baca juga: Alumnus UGM Punya Satu Solusi untuk Redam Konflik Antarsuku di Papua