Jumat, 12 Juli 2024 | 22:38 WIB

Mahasiswa UGM Temukan Fakta soal Hubungan Kebakaran Hutan dengan Penerbangan

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Kasus kebakaran hutan di Indonesia belum kunjung berhenti dari tahun ke tahun.

Terbaru, Direktorat PKHL Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI melaporkan, total kebakaran lahan dan hutan sepanjang 2019 mencapai sekitar 1,592 juta hektare.

Nilai tersebut dua kali lipat dibandingkan 2018 yang ‘hanya’ 592.266, 64 hektare lahan hutan terbakar.

Kebakaran hutan tentu saja memberikan andil besar terhadap emisi alias asap (karbon) berbahaya yang dilepaskan ke udara.

Kepulan asap dari hutan yang terbakar tidak hanya berbahaya bagi kesehatan.

Namun, ada dampak negatif lain yang timbul dari asap kebakaran hutan, seperti perubahan iklim dan gangguan sarana transportasi udara.

Mahasiwa program studi Doktor Ilmu Geografi, Fakultas Geografi UGM, Heri Ismanto, S.Si., M.Si, pun tergugah untuk meninjau masalah ini.

Baca juga: Dosa Didik Purbadi yang 7 Tahun di UGM Mencari Jati Diri

Heri meyakini, pembangunan model deteksi asap perlu dilakukan.

Dalam hal ini, guna mendukung sistem navigasi udara penerbangan nasional.

Dia lalu melakukan riset kajian estimasi risiko keselamatan penerbangan dengan menggunakan data teknologi penginderaan jauh orbital Himawari-8.

“Data tersebut digunakan untuk mengetahui karakteristik dampak asap terhadap transportasi udara,” kata Heri, dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Geografi UGM, Senin (27/1), melansir laman resmi UGM.

Heri menjelaskan, data yang dia peroleh dari satelit orbital Himawari-8 digabung dengan data observasi meteorologi penerbangan dan kuantifikasi risiko.

Kemudian, data tersebut dia  analisis dengan menggunakan metode komposit RGB (day microphysics, day natural color dan aerosol), Classification Tree Analysis dan Backpropagation of neural network (BPNN).

Dalam penelitiannya, heri melakukan pengambilan data di 40 bandara yang pernah terkena paparan asap pada 2015.

Baca juga: PT KMI Bontang Gandeng FKG UGM Tangani Anak Berkebutuhan Khusus di Wilayah Buffer Zone


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA