Kembangkan Sapi Unggulan, UGM Berharap Bisa Swasembada Daging

4975
Dekan Fakultas Peternakan Prof. Dr. Ali Agus mengatakan, selain bobot daging yang dihasilkan lebih besar, Lembu Gama juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Foto: Kinanthi
Dekan Fakultas Peternakan Prof. Dr. Ali Agus mengatakan, selain bobot daging yang dihasilkan lebih besar, Lembu Gama juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, SLEMAN – UGM telah menghasilkan 30 ekor sapi unggulan hasil inseminasi buatan.

Proyek tersebut merupakan hasil kerja sama UGM melalui Fakultas Peternakan dengan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Liege Belgium dan PT. Widodo Makmur Perkasa sejak 2013 lalu.

Hal ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., dalam jumpa pers di Bengkel Sapi CV. Berkah Andini Lestari, Sleman, pada Jum’at (10/01/2020).

Sapi unggulan tersebut dijuluki Lembu Gama atau Lembu Belgian Blue Cattle.

Lembu Gama merupakan hasil persilangan tiga darah dari sapi jenis Brahman Cross yang produktif dan adaptif, Belgian Blue Cattle yang berotot ganda, serta Wagyu Bull yang kualitas dagingnya terkenal baik.

Koordinator bengkel sapi, Waluyo menjelaskan, setiap sapi bisa menghabiskan pakan ternak sampai 15 kg.

Setiap harinya, bobot sapi bisa naik sekitar 1,4 kg.

Baca juga: Bagaimana Perasaan Orang yang Terbukti Melakukan Korupsi?

Ali berharap dengan persilangan ini, setelah sampai pada usia 3 tahun (umur potong sapi), berat badannya sudah mencapai sekitar 900 kg, sehingga bisa menghasilkan daging sekitar 350 kg yang setara dengan 3 ekor sapi lokal.

“Sekali potong dagingnya banyak. Beda sama sapi-sapi kita yang di usia potong bobotnya hanya sekitar 400 kg,” jelas Ali.

Selain bobot daging yang dihasilkan lebih besar, Lembu Gama juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Di samping itu, ketika sapi-sapi tersebut dikawinkan, mereka akan menghasilkan ratusan straw (sperma), yang bisa menjadi peluang bisnis.

“Kalau mau ada peluang bisnis, sebenarnya bisa jual sperma itu. Kemarin kita impor satu straw saja harganya Rp400.000. Tapi, belum saatnya kita fokus ke sana,” tutur Ali.

Dalam 20-30 tahun lagi, UGM berharap bisa swasembada daging sapi.

Ali menerangkan, kedepannya sapi-sapi ini akan dipotong jika beratnya sudah mencapai 1 ton.

Ali bersama timnya, bermimpi bisa menyediakan daging sapi unggulan ke sektor-sektor usaha yang membutuhkan daging berkualitas premium. (Kinanthi)

Baca juga: Laporan Terkini Aksi Kagama Peduli Banjir, Galang Dana sampai Rp127 Juta