Globalisasi Cinta yang Membuat Perempuan Tetap Jadi Gundik

1718
Perubahan paradigma cinta ternyata belum bisa mengubah cara pria memandang wanita. Foto: Istimewa
Perubahan paradigma cinta ternyata belum bisa mengubah cara pria memandang wanita. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Banyak orang kini mempercayai bahwa cinta merupakan perwujudan dari pemberian kasih tanpa pamrih.

Konsep tersebut ternyata muncul setelah cinta mengalami modernisasi.

Yakni ketika media menjual cerita-cerita yang dianggap publik sebagai cinta yang ideal.

Baik melalui FTV (Film Televisi) maupun bioskop, cinta digambarkan sebagai sesuatu yang tumbuh dari perasaan.

Pernyataan ini diungkapkan oleh Atika, audiens dalam bincang-bincang santai bertajuk ‘Perempuan Simpanan dalam Tradisi Elite Birokrat Indonesia’ bersama Impulse Yogyakarta (Institute for Multiculturalism and Pluralism) yang diikuti KAGAMA beberapa waktu lalu.

Bincang-bincang santai bertajuk 'Perempuan Simpanan dalam Tradisi Elite Birokrat Indonesia' bersama Impulse Yogyakarta (Institute for Multiculturalism and Pluralism). Foto: Tsalis
Bincang-bincang santai bertajuk ‘Perempuan Simpanan dalam Tradisi Elite Birokrat Indonesia’ bersama Impulse Yogyakarta (Institute for Multiculturalism and Pluralism). Foto: Tsalis

Baca juga: Lulusan Terbaik FK-KMK, Dennis: Kopi Teman Terbaik Saya

“Pria kaya menikahi wanita miskin, atau sebaliknya. Itu semacam brainwashing, yakni kita bisa mendapatkan cinta tanpa ada hal apa pun,” tuturnya.

Padahal, kata Atika, realitanya jika ditarik dari sejarah, cinta selalu lekat dengan seksualitas.

Maka dari itu, lanjutnya, saat ada pria yang sudah beristri memiliki hubungan dengan perempuan-perempuan lain, warganet Indonesia akan memberikan respons yang lebih heboh.

Dosen Antropologi UGM Dr. Suzie Handajani, M.A. pun memiliki tanggapan menarik atas pemaparan Atika.

Suzie memandang, masyarakat Indonesia kini sedang dihadapkan oleh dua arus.

Baca juga: Bambang Hudayana Kembangkan Departemen Antropologi Sejak Mahasiswa