Sabtu, 15 Juni 2024 | 00:21 WIB

Kisah Kerbau Vaksin Dokter Sardjito Menembus Perang Revolusi Kemerdekaan

Baca juga: Jangan Anggap Tabu, Anak Perlu Menerima Edukasi Seks Sejak Dini

Kantor PMI Bandung yang lokasinya tidak jauh dari Instituut Pasteur akhirnya juga difungsikan sebagai markas pejuang dan  rumah sakit darurat.

Banyak dari para gerilyawan yang diobati di rumah sakit darurat.

Apa lagi ketika pasukan bantuan dari Ciamis menyerang sekutu.

Kantor PMI Bandung kala itu menyuplai obat-obatan pun dikepung dan dibom.

Kendati markas PMI dihujani bom, Sardjito tetap bertahan.

Proses pembuatan vaksin. Foto: Biofarma
Proses pembuatan vaksin. Foto: Biofarma

Baca juga: Banyak Kekacauan Terjadi Saat PON ke-III di Medan Tahun 1953

Dia tidak melarikan diri, namun berusaha memindahkan lokasi dua lembaga yang dinaunginya.

Instituut Pasteur penting peranannya karena lembaga inilah yang memenuhi kebutuhan obat, vaksin, dan serum untuk seluruh pejuang di Jawa.

Sardjito kelak yang menjadi Rektor pertama UGM ini pun memindahkan lembaganya ke Klaten.

Lokasinya yang terletak di pedalaman dianggap lebih aman, karena tidak termasuk dijadikan target serangan sekutu.

“Untuk menyelamatkan vaksin hasil penelitiannya, selama perjalanan dari Bandung ke Klaten, Prof. Sardjito menyuntikkannya ke badan kerbau. Kerbau ini kemudian ikut dibawa naik kereta api dari Bandung ke Yogyakarta,” papar Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., kepada KAGAMA.

Baca juga: Batik Semakin Dikenal di Rusia


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA