Literasi Penting untuk Tangani Penderita Gangguan Kesehatan Mental

437
Gangguan kesehatan mental dan maraknya kasus bunuh diri di Indonesia memerlukan cara untuk mengatasinya. Salah satunya dengan literasi. Mengapa? Foto: tokopedia.com
Gangguan kesehatan mental dan maraknya kasus bunuh diri di Indonesia memerlukan cara untuk mengatasinya. Salah satunya dengan literasi. Mengapa? Foto: tokopedia.com

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Kesehatan mental kini tengah jadi topik yang terus dibicarakan.

Terutama usai film Joker tayang di layar lebar beberapa waktu lalu.

Namun demikian, jauh sebelum fenomena ini menyeruak, Anita Novianty dan M. Noor Rochman Hadjam, sempat membahas soal kesehatan mental.

Mereka menulis penelitian berjudul Literasi Kesehatan Mental dan Sikap Komunitas Sebagai Predikator  Pencarian Pertolongan Formal.

Penelitian tersebut terbit dalam jurnal Psikologi, Fakultas Psikologi UGM tahun 2017.

Baca juga: Alasan Kelompok Radikal Nekat Lakukan Aksi Teror Berkedok Agama

Dalam penelitiannya, Novianty dan Hadjam mengangkat masalah kurangnya penanganan profesional terhadap penderita gangguan kesehatan mental.

Hal itu ditunjukkan dengan dari kasus 23 persen gangguan mental yang berdampak pada kesehatan mental dunia, hanya 10 persen yang mendapat penanganan secara profesional.

Lantaran hal tersebut, Novianty dan Hadjam kemudian melakukan penelitian yang bertujuan untuk menemukan signifikansi literasi kesehatan mental dan sikap komunitas terhadap pencarian pertolongan formal.

Penelitian ini juga didasarkan pada temuan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013.

Data tersebut menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat nasional sebesar 1,7 per mil.

Baca juga: Candu Masyarakat pada Uang Elektronik, Good Life atau Happines?