Alasan Kelompok Radikal Nekat Lakukan Aksi Teror Berkedok Agama

191
ketimbang disebut sebagai radikal dan fundamentalis, mereka lebih suka mengklaim dirinya merupakan representasi Islam yang benar dan otentik. Foto: commondreams.org
ketimbang disebut sebagai radikal dan fundamentalis, mereka lebih suka mengklaim dirinya merupakan representasi Islam yang benar dan otentik. Foto: commondreams.org

KAGAMA.CO, BULAKSUMUSR – Klaim sebagai aktor protagonis melandasi tindakan nekat yang dilakukan kelompok radikal berkedok agama.

Pascareformasi 1998, beragam aksi terorisme seolah belum kunjung berhenti menghujani Indonesia.

Bom Bali, misalnya, yang terjadi pada 2002 dan 2005, menjadi salah satu contoh kasus.

Beragam kerugian menjadi akibat dari aksi teror yang dilakukan.

Tidak hanya nyawa dan harta benda, tetapi juga menurunnya minat wisatawan untuk berkunjung lantaran isu keamanan yang mengancam.

Baca juga: Candu Masyarakat pada Uang Elektronik, Good Life atau Happines?

Gerakan separatis Jamaah Islamiah (JI) disebut-sebut ada di belakang aksi Bom Bali 2002 dan 2005.

Eric Hiariej dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JSP) UGM yang berjudul Aksi dan Identitas Kolektif Gerakan Islam Radikal di Indonesia (2010)menyebut bahwa terhitung sejak  1999-2005, JI telah melancarkan 16 aksi pemboman dan peledakan.

Mengutip seorang pakar, Eric mengkategorikan teroris, utamanya di Malaysia dan Indonesia, sebagai aktivis yang memiliki tujuan melakukan perubahan radikal terhadap tatanan sosial yang berlaku dengan memakai kekerasan.

Dia menambahkan, metode kekerasan dan penggunaan sarana mematikan memang bukan fenomena baru dalam tradisi Islam garis keras di Indonesia.

Pada sekitar 1980-an, misalnya, sisa-sisa anggota Darul Islam (DI) dikait-kaitkan dengan peledakan sejumlah fasilitas umum.

Baca juga: Pasien Kanker Butuh Literasi yang Cukup