Membingkai Keberagaman Ala Gus Baha

2818
Gus Baha menjelaskan, Budaya sejatinya dibentuk oleh masyarakat.Kesenjangan yang ada itu terbentuk, karena orang-orang pintar yang menganggap orang lain sebagai objek atau 'pemutus sesuatu'. Foto: Kinanthi
Gus Baha menjelaskan, Budaya sejatinya dibentuk oleh masyarakat.Kesenjangan yang ada itu terbentuk, karena orang-orang pintar yang menganggap orang lain sebagai objek atau 'pemutus sesuatu'. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Melestarikan budaya Indonesia dinilai penting. Namun, budaya Indonesia beragam.

Kita perlu memilih dan memilah budaya yang patut dilestarikan.

Hal ini disampaikan oleh KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam orasi budaya Membingkai Keberagaman, pada Senin (28/10/2019) di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM.

“Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Kesenjangan itu bagian dari budaya Indonesia. Kita tidak seharusnya melestarikan ini. Dan lucunya ini hanya jadi tontonan, itu nggak baik,” jelas Gus Baha.

Bagi dia sebagai kiai, budaya bahagia merupakan budaya yang harus dipelihara.

Bahagia ini tentu dicapai dengan cara-cara yang positif, termasuk mensyukuri segala sesuatu yang kita punya.

Dikatakan oleh Gus Baha, siapapun harus bahagia, termasuk kaum minoritas sekalipun.

Dalam kesempatan tersebut, Kaprodi S1 Teknologi Hasil Hutan, Dr. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut, M.Agr, (kanan) mengutarakan bahwa memahami keberagaman itu penting, supaya mahasiswa tidak hanya fokus pada disiplin ilmunya. Foto: Kinanthi
Dalam kesempatan tersebut, Kaprodi S1 Teknologi Hasil Hutan, Dr. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut, M.Agr, (kanan) mengutarakan bahwa memahami keberagaman itu penting, supaya mahasiswa tidak hanya fokus pada disiplin ilmunya. Foto: Kinanthi

Baca juga: Dokter RSUP Dr. Sardjito Paparkan Peran Spiritualitas Jawa bagi Kesehatan Jiwa

Gus Baha mengaku dikenal sebagai kiai yang membela orang biasa.

“Jadi kaum minoritas itu harus kita syukuri. Jadi orang kecil itu enak. Disubsidi pantes, dipikir orang tentang apapun juga pantes. Sebab kalau jadi orang besar, segala kesalahan biasanya ditimpa ke kita,” ujarnya.

Barokahnya menjadi seseorang yang kecil pernah dialami Gus Baha.

Dirinya mengaku tidak sekolah mahal dan tidak punya gelar.

Namun, dirinya senang, karena ketika menganggur dia dianggap pantas dan tidak disalahkan oleh orang lain.

“Kadang doktor dan profesor, banyak belajar terus nyari gelar. Sementara Saya belajar tafsir terus, akhirnya malah pinter Saya,” kelakarnya.

Dirinya kemudian membahas soal perdebatan organisasi-organisasi Islam yang berdebat menentukan awal bulan ramadan, dengan teori yang mereka yakini masing-masing.

Baca juga: Keris, Teknologi Canggih yang Menyimpan Pesan Ketauhidan Leluhur