Donny Widianto Tertarik Jurusan Langka dan Sulit Dipelajari

1813

Baca juga: Nostalgia Ospek UGM Era 90-an, Tugas-tugas yang Aneh dan Penuh Kode

Donny menambahkan, upaya membangun sistem grup penelitian di UGM tersebut terhambat oleh persoalan mindset, budaya, dan manner.

Untuk itu, Donny merasa cita-citanya tidak terwujud.

“Masih ingin dicapai sih, cuma sekarang menyesuaikan diri. Nggak ngotot-ngotot sekali. Sebelumnya sudah dua kali masa jabatan dekan, saya mengusulkan pendanaan penelitian untuk S1. Tetapi baru bisa didanai dua tahun lalu. Harapannya setelah ini dosen punya penelitian besar yang bisa melibatkan mahasiswa S2 dan S3-nya,” ungkapnya.

Donny mengatakan, memang untuk mengimplementasikan sesuatu tidak hanya cukup dengan keahlian, tetapi juga power.

Ia menyayangkan universitas yang dinilai kurang peduli terhadap penelitian mahasiswa.

Baca juga: Dilema Pendidikan Papua

“Dulu itu Saya ingin mengabaikan bahwa janganlah dana penelitian dijadikan sebagai additionally come. Untuk menanamkan itu sulit sekali, sejak dulu hingga sekarang,” tandasnya.

‘No pain, no gain’ jadi pegangan hidup

Selama 32 tahun mengabdi di UGM, Donny telah mengarungi berbagai tantangan dalam berkarier.

Sejak kecil hingga saat menempuh pendidikan di Jepang, ia sudah terbiasa dengan kehidupan yang disiplin.

No pain, no gainNggak ada sesuatu yang dicapai tanpa perjuangan, jangan takut melarat, dan be independent,” ujar Donny.

Be independent, kata Donny, jadilah orang yang merdeka, meskipun untuk mencapai kemerdekaan itu pun tidak mudah.

Pengalaman kuliah dan bekerja di Jepang memberikannya pelajaran berharga tentang arti kemerdekaan.

Donny pernah menerima tawaran bekerja di Jepang dan mendapat gaji sangat besar.

Namun, akhirnya ia memilih berkarier di Indonesia, karena bisa merdeka. (Kinanthi)

Baca juga: Siswa Papua Menggapai Asa