Vivin Peraih IPK Tertinggi FKKMK Sempat Tertekan di Awal Kuliah

1899

Baca juga: Beberapa Perbedaan Perayaan Wisuda Sarjana dan Pascasarjana

Lambat laun ia tak lagi memikirkan orang-orang yang merendahkannya itu.

“Dari jurusan ini aku juga dapat perspektif baru. Dulu aku juga sempat mikir yang tidak-tidak tentang profesiku nanti. Tapi, ternyata di Ilmu Keperawatan ini banyak orang-orang hebat. Nggak salah masuk jurusan ini,” ujar wisudawan yang menyelesaikan masa studinya selama 3 tahun 11 bulan itu.

Ketika ditanya soal trik khusus belajarnya, Vivin mengaku selama ini selalu mengurangi kegiatan saat menjelang ujian.

Ia merupakan mahasiswi yang tidak bisa menggunakan pola belajar sistem kebut semalam, karena itu Vivin selalu mencicil belajar.

Baca juga: Ganjar Pranowo Ajak Alumni Berkontribusi Atasi Persoalan Negeri

Teman-teman Seperjuangan Jadi Kekuatan untuk Survive

Hal yang paling berkesan dan sulit dilupakan yaitu ketika Vivin mengerjakan skripsi.

Waktu yang tersedia untuk pengerjaan skripsinya tak terbilang lama.

Dalam waktu tiga minggu Vivin berhasil menyelesaikan dua bab.

Selain itu, masa KKN bagi Vivin juga cukup berkesan. Meskipun ia menjadi mahasiswa yang paling tua di kelompoknya.

Vivin merasa cocok dan bersyukur mendapat kawan baru yang menyenangkan.

“Teman-teman itu juga yang membuatku survive sampai di tahap ini,” ungkapnya.

Vivin merasa cocok dan bersyukur mendapat kawan baru yang menyenangkan. Foto: Istimewa
Vivin merasa cocok dan bersyukur mendapat kawan baru yang menyenangkan. Foto: Istimewa

Baca juga: Dirjen Ali Ghufron Mukti Raih Penghargaan dari Ilmuwan Dunia

Orang Tua Libur Kerja Demi Mendoakannya 

Selain usaha dan doa, perjuangan Vivin juga diiringi dengan berbagai dukungan dari orang-orang di sekitarnya, termasuk orang tua.

Diceritakan oleh Vivin, apa pun yang berhubungan dengan pendidikan, orang tuanya selalu mendukung, baik secara materiil maupun moril.

“Dari segi moril, orang tua itu selalu support lewat doa. Setiap Saya mau lomba, ujian, atau apa, orang tua pasti selalu di rumah untuk berdoa. Misal saat ujian skripsi kemarin, orang tua lebih memilih libur kerja dan berdoa di rumah di jam saya ujian itu. Orang rumah berdoa secara bergantian. Itu benar-benar menjadi kekuatan tersendiri buat Saya,” ungkap wisudawan peraih IPK 3.98 itu.

Tak ada figur yang menginspirasi bagi Vivin. Namun, setiap kali dirinya berjuang ia selalu teringat orang tuanya.

Sebagai anak sulung, Vivin ingin menjadi panutan bagi adik-adiknya.

Bagi dia, segala hal yang dia lakukan sebisa mungkin berguna juga untuk orang lain.

Baca juga: Sumbangsih Mahasiswa UGM di Awal Kemerdekaan RI

Ingin Jadi Orang yang Berguna dengan Profesinya

Saat ditanya soal cita-cita dan tujuan hidup, Vivin mengaku belum memiliki bayangan, tetapi yang jelas dengan profesi perawat itu ia berharap bisa menjadi orang yang berguna untuk siapa saja.

“Entah nanti kerja di birokrat, di klinis, di rumah sakit, aku ingin dengan profesiku aku bisa membantu orang,” tandas Vivin.

Sedikit pesan untuk almamaternya, Vivin berharap UGM bisa mencetak orang-orang yang berguna untuk bangsa.

Menyandang gelar sarjana bagi Vivin menjadi suatu kebanggan sekaligus tantangan baru, karena di luar nanti ia membawa nama UGM setiap ia berkarya. (Kinanthi)

Baca juga: Mengatasi Cedera Saraf Lebih Cepat dan Murah