Alasan Kemunculan Teroris Perempuan

116
Bom bunuh diri akan mungkin dilakukan oleh istri pelaku bom di Indonesia apabila tidak ada lagi pihak yang peduli dengan masalah ekonomi mereka.(Foto: redaksiindonesia.com)
Bom bunuh diri akan mungkin dilakukan oleh istri pelaku bom di Indonesia apabila tidak ada lagi pihak yang peduli dengan masalah ekonomi mereka.(Foto: redaksiindonesia.com)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Beberapa waktu yang lalu, dunia sempat dihebohkan dengan adanya peristiwa terorisme di New Zealand. Di Indonesia, kejadian terosisme pada 2018 tak kalah menggemparkan. Satu keluarga menjadi pelaku peledakan 3 gereja di surabaya.
Maret lalu telah terjadi peristiwa penangkapan terduga teroris perempuan di Sibolga dan Klaten. Terduga 2 teroris perempuan tersebut ialah Roslina alias Syuhama dan Yulianti Sri alias Khodijah.
Keterlibatan perempuan kini menjadi tren terbaru dalam jaringan terorisme di Indonesia. Hal ini diamini oleh M Edy Saputro dalam penelitiannya yang diterbitkan di Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM.
Dalam penelitiannya yang berjudul Probabilitas Teroris Perempuan Di Indonesia (2010), Saputro menyebutkan beberapa kondisi yang mendorong adanya teroris perempuan di Indonesia.
“Pertama, apabila tindakan penangkapan teroris sengaja, atau tidak melibatkan, atau mengambil korban kerabat terutama anak-anak teroris, maka akan melahirkan dendam dan dengan justifikasi tindakan bom bunuh diri akan semakin menjadi,” tulis Saputro.
Kedua, bom bunuh diri akan mungkin dilakukan oleh istri pelaku bom di Indonesia apabila tidak ada lagi pihak yang peduli dengan masalah ekonomi mereka. Dan ketiga, sang anak akan menjadikan ayah pelaku teror bom sebagai idola. Perempuan lebih tepatnya sang ibu memiliki peran penting dalam pendidikan ini.
“Oleh sebab itu pihak berwenag perlu menjelaskan kepada masyarakat perbedaan antara terorisme dan mujahid. Agar bisa mencegah pada anak-anak teroris mengikuti jejak ayahnya,” tulis Suparto.(Rosa)