Senin, 15 Juli 2024 | 23:10 WIB

Limbah Rumah Tangga Pemicu Utama Sampah Perkotaan

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Jumlah penduduk yang tinggi berakibat pada limbah yang dihasilkan juga akan lebih banyak.
Terutama limbah atau sampah rumah tangga di perkotaan. Hal itu disebabkan kepadatan penduduk selama ini berpusat di kota-kota.
“Tercatat dalam laporan Badan Pusat Statistik (2014) tentang proyeksi persentase jumlah penduduk perkotaan dari tahun 2010-2035 sekitar 66,6 persen. Hal tersebut juga terlihat dari laju pertambahan jumlah rumah tangga pada tahun 2013 sebanyak 64.041.200 dan mengalami kenaikan pada tahun 2015 menjadi 65.588.400 rumah tangga,” tulis Deni Saputra dalam tesisnya di S2 Teknik Industri UGM.
Dalam tesis berjudul Perilaku Rumah Tangga Perkotaan dalam Menghasilkan Sampah Makanan di Kecamatan Pakualaman Kota Yogyakarta (2018), seiring bertambahnya jumlah penduduk dalam suatu kota, maka limbah yang dihasilkan juga semakin besar.
“Komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah rumah tangga. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya food waste adalah perilaku konsumen,” tulisnya.
Deni menyebut bahwa perilaku rumah tangga atau kebiasaan sehari-hari menjadi pemicu semakin bertambahnya sampah. Hasil dari penelitian yang ia lakukan menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan langsung dengan jumlah sampah yang dihasilkan adalah kebiasaan membuang makanan.
Penyebabnya antara lain karena bosan terhadap makanan, dan membuang makanan karena rasa makanan sudah tidak enak (food management). Selain itu, aktifitas memasak yang berlebih (food propotion) juga menjadi penyebab tingginya jumlah sampah makanan yang dihasilkan oleh suatu rumah tangga.
Adapun faktor yang tidak berhubungan langsung terhadap jumlah sampah yang dihasilkan yaitu status sosial. Deni menulis, semakin tinggi status sosial seseorang di masyarakat maka daya belinya juga meningkat. Hal itu memungkinkan seseorang tersebut memproduksi sampah rumah tangga yang lebih banyak karena daya beli yang tinggi.
“Hal-hal tersebut menjadi salah satu penyebab utama jumlah sampah makanan terus meningkat,” tulis Deni.(Thovan)

KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA