Sabtu, 25 Mei 2024 | 17:30 WIB

Merayakan Optimisme Melalui Pameran Seni Rupa

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkan perasaannya. Berbagai media pun tersedia untuk menampungnya.

Kita bisa mengungkapkan dengan bercerita bersama teman, bercuit-cuit di dunia maya, menghasilkan sebuah karya, atau bisa juga dengan hanya mengubah mimik wajah sesuai suasana hati.

Begitu pula dengan seorang seniman dalam menuangkan perasaannya lewat sebuah coretan tinta atau dalam bentuk seni lain.

Taman Budaya Yogyakarta menjadi saksi diselenggarakannya “Pameran Seni Rupa; Merayakan Optimisme” pada tanggal 23-29 Maret 2019. Para seniman beserta relawan bersama memberikan hasil karya dari ungkapan rasa optimis mereka.

Pameran selama satu minggu ini mengambil tema, “Homo Faber, Manusia Kerja”. Tema ini memberikan makna tentang optimisme sebagai etos perlu dirayakan agar tidak redup.

Dalam membangun sikap optimis di segala bidang perlu sebuah kedekatan hubungan yang produktif dari seorang penguasa kepada rakyatnya.(Foto: Sirajuddin)
Dalam membangun sikap optimis di segala bidang perlu sebuah kedekatan hubungan yang produktif dari seorang penguasa kepada rakyatnya.(Foto: Sirajuddin)

“Mereka kumpul merayakan optimisme dari pekerjaan mereka selama ini, sekaligus mengapresiasi perjalanan bangsa dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap Linda sebagai salah satu motor dari pameran ini kepada Kagama, Sabtu (30/03/2019).

Afnan Malay dibantu Rain Rosidi merealisasikan pameran yang sebenarnya sudah direncakan pada 2 tahun yang lalu. Dan di tahun 2019 inilah keinginannya terwujud dengan bantuan dari berbagai seniman dan relawan.

Meskipun berlokasi di Yogyakarta, para seniman yang menyumbang hasil karyanya ada yang berasal dari Jakarta dan Bali. Di antara seniman ini, terdapat satu seniman yang masih berstatus mahasiswa, yakni Seni Wahyu.

Kota Yogyakarta dipilih sebagai simbol dari kawah Candradimuka, yakni kawasan dengan terbangunnya wawasan berbangsa yang terdiri dari ragam identitas bahasa, adat, dan agama.

Menurut Rain Rosidi, pameran ini sekaligus membangun kembali narasi Yogyakarta sebagai kota yang sarat dengan ide-ide toleran, terbuka, dan menghargai sejarah.


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA