Anggito Abimanyu: Buku Saya Gratis untuk Mahasiswa

399
Peluncuran Buku Menyimak Turbulensi Ekonomi: Pengalaman Empiris Indonesia.(Foto: SV)
Peluncuran Buku Menyimak Turbulensi Ekonomi: Pengalaman Empiris Indonesia.(Foto: SV)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sekolah Vokasi UGM mengadakan peluncuran dan bedah buku berjudul “Menyimak Turbulensi Ekonomi: Pengalaman Empiris Indonesia” di Hall Sekolah Vokasi pada Sabtu (16/02/2019).

Buku tersebut merupakan karya dari salah satu dosen D3 Ekonomika dan Bisnis SV UGM (DEB), Dr. Anggito Abimanyu. Acara ini dihadiri oleh Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng, Dekan Sekolah Vokasi Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D, serta para pembedah yaitu Rektor Universitas Widya Mataram Prof. Dr. Edy Suandi Hamid dan Dosen FEB UGM Dr. Elan Satriawan.

Anggito bercerita, dirinya menyelesaikan buku tersebut dalam waktu satu bulan. Judul dan sampul ia sesuaikan dengan isinya. Disebut tubulensi karena menggambarkan kondisi yang terjadi di perekonomian Indonesia.

“Tidak ada contoh konkret teori ekonomi diterapkan di Indonesia. Disebut turbulensi karena kondisi yang cepat berubah, karena 3 hal, internal dan kebijakan, dinamika politik, dan eksternal global,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pentingnya peran akademisi mengembalikan atau mengurangi turbulensi yang ada. Kuncinya, kata dia, kaum akademis memperjuangkan policy agar turbulensi yang kian meningkat ini berkurang.

Menariknya, Anggito mengaku memberikan buku tersebut secara gratis pada mahasiswa. “Buku ini saya berikan pada mahasiswa gratis. Saya persembahkan hasil penjualannya kepada Vokasi,” pungkasnya.

Di sisi lain Edi Suandi juga mengatakan bahwa buku tersebut tidak hanya bagus, tapi juga mengandung banyak hal yang bisa digunakan sebagai materi pengajaran.

“Buku ini bisa menjelaskan permasalahan ekonomi di Indonesia. Bagi orang yang tidak paham ekonomi pun bisa. Penulis menjelaskan hal sulit dengan komunikatif, mudah dipahami,” ungkap Edi.

Sementara itu, Elan berkomentar bahwa buku tersebut dapat menjadi sarana guna mendorong transformasi aktivisme akademisi. Hal ini karena teori diterapkan tidak pernah linier.

“Pak Anggito mencoba menerapkan teori ekonomi untuk Indonesia. Ini menarik. Kita tidak hanya membaca analisis pengamat tapi juga pelaku kebijakan,” pungkasnya.(Thovan)