Begini Ciri-ciri dan Potensi Banjir Bandang

931

Ketiga, terjadinya pembendungan akibat adanya sisa vegetasi dan longsoran. Agus mencontohkan faktor ini dengan kasus yang ada di Magelang.

“Awalnya sungai tenang-tenang saja, tetapi karena pembendungannya jebol, akibatnya sungai menjadi ‘murka’ dengan membawa berbagai material seperti batu dan kayu,” terang Agus.

Keempat, bertemunya puncak banjir seperti yang terdapat di Bima dan Semarang. Kelima, jebolnya bendungan atau tanggul seperti yang pernah terjadi di Gajah Mungkur.

Dari persitiwa tersebut, Agus menyarankan agar pembangunan bendungan harus memikirkan pula potensinya ketika jebol, supaya dapat mengetahui dampak serta cara evakuasi yang terbaik.

Keenam, kembalinya alur sungai sodetan ke alur yang semula.

Contoh dari faktor ini adalah aliran sungai yang diubah untuk dijadikan rumah, cottage, dan bangunan lainnya.

Dengan adanya pengubahan ini, maka air akan mencari alirannya sendiri, bukan aliran yang dibuat oleh manusia, sehingga ia menerjang bangunan-bangunan yang merupakan aliran sebenarnya.

Peristiwa tersebut pernah terjadi di Bahorok yang menewaskan hingga 200 orang. “Dengan melihat potensi banjir bandang yang banyak tersebar di berbaga tempat, maka pemerintah harus peduli dan tanggap dengan pencegahan banjir bandang,” pungkas Agus.(Tita)