Bernostalgia dengan Cerita Anak Seri Keluarga Cemara

892
Keluarga Cemara.(Foto: Tribun)
Keluarga Cemara.(Foto: Tribun)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Serial TV Keluarga Cemara yang ditayangkan pada tahun 1996-2005 di stasiun TV RCTI dan TV 7 dibuat kembali (re-make) dalam film yang ditayangkan awal 2019.

Film tersebut mendapatkan respon positif dari masyarakat Indonesia, sama seperti serial TV yang terlebih dulu telah dikenal. Meskipun dikenal luas, tetapi tak banyak orang yang tahu bahwa Keluarga Cemara yang ditayangkan di TV merupakan adaptasi dari serial cerita anak dengan judul yang sama.

Dalam studinya, Henny Indarwaty menyebutkan bahwa Keluarga Cemara ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Judul-judul dalam serial cerita anak tersebut yaitu Keluarga Cemara (1981), Keluarga Cemara: Musik Musim Hujan (1999), Keluarga Cemara: Tempat Minum dari Toko (1999), Keluarga Cemara: Kupon Kemenangan (1999), Keluarga Cemara: Becak Emak (2001), dan Keluarga Cemara: Bunga Pengantin (2001).

Secara umum, Keluarga Cemara menceritakan tentang keluarga tradisional yang terdiri dari ayah sebagai kepala keluarga, ibu sebagai pengurus rumah tangga, beserta anak-anak yang menghadapi tantangan hidupnya masing-masing.

Menurut Henny dalam tesisnya yang berjudul Nilai Sosial dalam Keluarga Cemara Karya Arswendo Atmowiloto dan Little House Karya Laura Ingalls Wilder: Kajian Perbandingan Sastra Anak, disebutkan bahwa serial cerita anak ini memiliki nilai patriarki, kepatuhan anak, perayaan keluarga, dan kerja keras.

“Nilai-nilai tersebut merupakan cultural mindset masyarakat yang berlaku di masa cerita tersebut ditulis,” tulisnya dalam tesisnya di Magister Ilmu Sastra UGM, 2013.

Nilai kepatuhan anak terlihat dari watak anak-anak yang penurut dan tidak bolek membantah pada orang tua. Namun, Henny menganggap bahwa upaya penulis untuk menampilkan nilai-nilai tertentu dalam suatu cerita dilatarbelakangi oleh kedudukan keluarga yang menjadi unit terkecil dari masyarakat.

Di dalam keluarga tersebut, terdapat anak-anak yang dididik untuk terus berkembang, sehingga ditanamkan nilai-nilai seperti kepatuhan terhadap orang tua.

Henny menjelaskan pula bahwa Keluarga Cemara juga mengajarkan untuk nerimo karena bercerita tentang keluarga miskin yang bahagia. Meskipun dihadapkan pada kondisi yang miskin, tetapi keluarga tersebut, terutama anak-anak selalu berada dalam kehangatan.(Tita)