Hati-hati! Iklan dapat Meningkatkan Emotional Eating

63
Emotional eating.(Foto: Republika)
Emotional eating.(Foto: Republika)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sebuah studi menyebutkan bahwa iklan terkait erat dalam mempengaruhi emotional eating seseorang. Emotional eating dapat diartikan sebagai kondisi individu yang berusaha menyalurkan emosi  dalam bentuk mengonsumsi makanan.

Hal ini wajar dilakukan oleh seseorang untuk mengelola emosi yang dimilikinya agar tidak meluap-luap. Kondisi Emotional Eating ini banyak terjadi pada usia dewasa, tetapi dapat dijumpai pula pada usia remaja.

Dalam  tesis Analisis Pengaruh Sikap terhadap Iklan pada Perilaku Emotional Eating Dimediasi Minat Beli dan Pikiran Ruminative, Finotia Astari menjelaskan bahwa untuk mengalihkan emosi yang tidak diinginkan, pelaku emotional eating cenderung mengkonsumsi produk makanan hedonis.

Produk-produk yang dikategorikan sebagai makanan hedonis memiliki kandungan lemak dan kalori yang tinggi seperti junk food, cokelat, es krim, dan mie instan.

Dengan mengonsumsi produk makanan hedonis, maka emotional eating juga menyebabkan individu memiliki pola makan tidak sehat dan mengalami kelebihan berat badan. Bahkan, kelebihan berat badan ini dianggap sebagai gagalnya kontrol diri karena menjadikan makanan bukan untuk memenuhi kebutuhan lapar, melainkan mengurangi tekanan emosi yang kurang terkendali.

Adanya emosi yang diluapkan dalam mengonsumsi makanan ini kemudian dimanfaatkan oleh peran pemasar makanan melalui iklan yang turut meningkatkan perilaku emotional eating. Fionita menjelaskan bahwa iklan didesain agar memiliki daya tarik dari perasaan atau emosi konsumen.

“Iklan benar-benar memberikan pengaruh apabila konsumen meresponnya dengan membeli produk yang ditawarkan,” tulis Fionita dalam tesisnya pada Program Studi Magister Manajemen FEB UGM, 2014.

Namun, Fionita menambahkan bahwa iklan tidak hanya memberi dorongan untuk membeli produk saja. Iklan juga memunculkan pikiran ruminative yang memiliki kecenderungan fokus secara berulang pada perasaan negatif dan kecenderungan berfikir atas solusi masalah secara pastif.

Adanya pikiran ruminative, pelaku emotional eating akan selalu memikirkan dan berimajinasi tentang produk makanan untuk mengelola emosinya.  Semakin tinggi respon terhadap iklan, maka semakin tinggi pula minat beli dan perilaku emotional eating yang juga berpengaruh pada pikiran ruminative.(Tita)