Jogja Darurat Kekeringan, Begini Solusinya

46
Kongres Memanen Air Hujan Indonesia 2018.(Foto: Istimewa)
Kongres Memanen Air Hujan Indonesia 2018.(Foto: Istimewa)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Kelangkaan air bersih menjadi tantangan bagi Indonesia yang memiliki laju pertumbuhan penduduk dengan cepat, sedangkan pertambahan air hanya sebesar 1/3 di 2050 dari volume yang ada saat ini.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Besar Wilayah Serayu-Opak Ir. Tribayu Aji, M.A, dalam Kongres Memanen Air Hujan Indonesia 2018, di Hall Perpustakaan Sekolah Vokasi, UGM pada Rabu (28/11/2018).

Menurut Bayu, kelangkaan air bersih dipicu oleh kemarau yang panjang, sedimentasi pada tampungan air seperti waduk, meningkatnya industri perkotaan yang menghasilkan limbah, serta degradasi daerah aliran sungai.

“Melihat dalam konteks kota Jogja, wilayah ini diperkirakan akan menjadi kering dan tenggelam pada 2025. Kota ini berkembang dengan sangat pesat, banyak gedung-gedung baru dan industri yang dapat menyebabkan kelangkaan air bersih,” ungkapnya.

Melihat masalah tersebut, Balai Besar Wilayah Serau-Opak sedang mencari solusi untuk mendapatkan sumber air baru yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Jogja.

Bayu menyebutkan bahwa institusi tersebut tengah mengupayakan pembentukan awan, hingga memperhatikan wilayah hulu dan hilir. Untuk mencegah kelangkaan air, dapat dilakukan metode-metode seperti memanen air hujan, membuat taman resapan, reboisasi, dan membangun bendungan.

Selain cara-cara yang langsung mengatasi permasalahan air, kata Bayu, diperlukan pula kearifan lokal yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Bayu memberikan contoh dengan Papatah Ki Sunda dalam konteks transormasi pengelolaan air hujan seperti cinyusu rumateun yang memiliki arti mata air yang dipeihara.(Tita)