Indonesia Darurat Air Bersih

107
Kongres Memanen Air Hujan.(Foto: Tita)
Kongres Memanen Air Hujan.(Foto: Tita)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Cadangan air bersih di Indonesia mulai krisis, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Jawa, Sulawesi, dan Sumatera.

Hal ini disampaikan oleh Ir. Sakti Hadenggaman, M. For, Sc., selaku Sekretaris Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dalam Kongres Memanen Air Hujan Indonesia 2018 di Hall Perpustakaan Sekolah Vokasi, UGM, pada Rabu (28/11/2018).

“Bahkan, Jakarta termasuk ke dalam 11 kota di dunia yang terancam kekurangan air,” imbuhnya.

Untuk mengatasi kekurangan air, Sakti menawarkan solusi dengan “urun daya” yang menggerakkan seluruh aspek mulai dari masyarakat, komunitas, hingga pembuat kebijakan. Solusi tersebut bertujuan untuk memanen air hujan, sehingga dapat mencegah bencana banjir dan kekeringan.

“Air hujan perlu dikelola dengan baik karena berpotensi menimbulkan banjir pada musim hujan dan menjadi kekeringan ketika musim kemarau tiba,” tandasnya.

Dalam acara bertema “Air Hujan adalah Potensi Air Bersih Masa Depan”, Sakti menyebutkan bahwa air hujan harus “diperangkap” supaya tidak langsung mengalir kembali ke laut. Untuk merealisasikan ide ini, maka perlu membuat waduk dan bendungan, serta memanfaatkan kearifan lokal agar masyarakat mau menggunakan air dengan sebaik-baiknya.

Dengan “urun daya”, semua lapisan masyarakat harus bekerja sama untuk mengelola air hujan. “Kalau nunggu APBN ya kesuwen, makannya urun daya saja”, ungkapnya.

Meskipun demikian, tuntutan pengelolaan air ini tetap sulit dilakukan karena ada sektor lain seperti pertanian dan perikanan yang justru dapat menurunkan kualitas air beserta sedimentasi di sungai-sungai.

“Kita harus segera mengelola air dengan baik supaya masyarakat tidak berkonflik hanya karena berebut air seperti di India,” pungkasnya.(Tita)