Dr. Emilya Nurjani, M. Si. : DIY Rawan Angin Kencang

512
Dr Emilya Nurjani, M Si

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Pakar iklim Universitas Gadjah Mada, Dr. Emilya Nurjani, M. Si., mengatakan angin kencang rawan terjadi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Terjadi tekanan rendah udara di DIY sehingga rawan mengalami angin kencang,” Emilya, Selasa (20/1/2018) saat ditemui di ruang kerjanya di Fakultas Geografi UGM.

Emilya menjelaskan udara bergerak dari tempat bertekanan tinggi ke tekanan rendah. Saat udara bergerak dari Asia dan Samudera Hindia ke arah Australia maka sejumlah wilayah yang terlewati aliran udara tersebut berpeluang mengalami dampak angin kencang, termasuk DIY.

“Prinsipnya angin itu bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, yaitu yang memiliki suhu udara tinggi menjadi daerah tujuan angin,” ucap dosen Geografi Lingkungan.

Daerah perkotaan di Yogyakarta berpotensi terjadi angin kencang karena memiliki suhu udara yang lebih tinggi dibandingkan sekitarnya.  Selain itu, kawasan padat bangunan beton, pemukiman beratapkan seng, dan sepanjang rel, memiliki kerentanan tinggi terjadi angin kencang karena banyak material yang mudah menyimpan panas.

“Kalau banyak bangunan dan di sekitarnya tidak ada ruang  maka akan banyak turbulensi dan menimbulkan angin kencang,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, kawasan dengan tutupan lahan yang kecil juga rawan timbul angin kencang.

Sementara, untuk mengurangi dampak bencana angin kencang, Emilya mengimbau warga masyarakat untuk selalu waspada saat terjadi hujan lebat dan angin kencang.

“Jangan berlindung atau berteduh di bawah pohon saat hujan lebat,” tegasnya.

Dia juga menekankan pentingnya pemeliharaan terhadap pohon-pohon yang terlalu rimbun dan tua. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko robohnya pohon saat hujan lebat.

“Perlu pemangkasan pada pepohonan yang rimbun dan tua,” ucapnya.

Emilya menambahkan pemberian edukasi kepada masyarakat terkait mitigasi bencana juga perlu dilaksanakan untuk pengurangan risiko bencana angin kencang. Edukasi dilakukan di seluruh lapisan masyarakat bahkan pada anak-anak.

“Pemberian pemahaman terkait mitigasi bencana juga penting diberikan pada anak-anak sejak dini sehingga bisa lebih tanggap terhadap bencana. Misalnya saja dengan memberikan kurikulum pengurangan risiko bencana yang dikembangkan sesuai usia dan kebutuhan,” pungkasnya.

Sumber : Bagian Humas dan Protokol UGM