Prihatin Banyak Sawah Tergusur Antar Alfian Raih Golden Award AYDA

70

“HAMPARAN sawah hijau yang terbentang sepanjang Jalan Parangtritis di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan keindahan sendiri bagi mata yang memandang. Namun, kini telah berubah menjadi bangunan yang berdiri di sawah-sawah tersebut dan membuat pemandangannya tidak menjadi bagus lagi,” ungkap Alfian di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (26/1/2018).

Kenyataan tersebut menimbulkan keresahan yang menjadi ide awal Alfian Reza Al Madjid ketika akan membuat tugas akhir untuk menyelesaikan studinya di Teknik Arsitektur UGM. Pokok masalah pada keberadaan lahan sawah yang dahulu membentang hijau, sekarang berubah menjadi bangunan yang menggusur lahan pertanian.

Kegelisahan Alfian ini menjadi titik balik baginya untuk dapat membuat sebuah desain pembangunan di kota dengan tanpa menggusur lahan pertanian. Karena, sawah sebagai lahan pertanian yang dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari sekarang banyak dilupakan. Banyak lahan sawah di wilayah kota diganti menjadi lahan pemukiman masyarakat hingga berdampak pada berkurangnya lahan pertanian.

Permasalahan semakin kompleks mengingat profesi petani di era kini sudah tidak terlalu dilirik dan diperhatikan bila dibandingkan dengan profesi yang lain. Persoalan ini yang dirasakan oleh Alfian ketika melihat petani bukanlah pekerjaan yang memiliki sebuah kebanggaan dan enghargaan dari masyarakat pun tidak ada lagi.

“Saya merasa sedih sekarang. Menjadi seorang petani itu berat karena tidak mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Padahal, untuk pemenuhan pangan sehari-hari itu jasa dari para petani,” tutur Alfian.