Mengendalikan Ibu Jari Bisa Tekan Kasus “Hate Spin”

163

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Kasus hate speech (ujaran kebencian) mulai mengemuka secara massif pada 2014, menjelang pemilihan presiden (Pilpres). Namun, kasus yang juga disebut hate spin (pelintiran kebencian) ternyata sudah berlangsung sejak republik ini menjelang berdiri, yaitu era 1940-an.

“Sebenarnya kan intinya fitnah. Jadi, pelintiran kebencian sudah terjadi dari dulu, tahun 1940-an sudah ada. Bentuknya saja yang saat ini ekstrem dan ramai karena sekarang zaman medsos,” ucap Redaktur Utama Tempo Widiarsi Agustina dalam Peluncuran dan Diskusi Buku “Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi, Kamis (21/12/2017) di Auditorium Lantai 4 FISIPOL UGM, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta.

Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Institute of International Studies (IIS UGM) juga hadir narasumber  Zainal Abidin Bagir (Ketua Program Studi Agama dan Lintas-Budaya (CRCS) UGM) dan  Irsyad Rafsadie (Peneliti PUSAD Paramadina). Topik diskusi mengambil buku aslinya, Hate Spin karya Cherian George, seorang profesor jurnalisme dari Hong Kong Baptist University.

Suasana Peluncuran dan Diskusi Buku Buku “Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi" [Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA]
Suasana Peluncuran dan Diskusi Buku Buku “Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi” [Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA]
Lalu, bagaimana kita memberantas hate spin? Widiarsi Agustina memberikan tips agar kita mampu mengendalikan ibu jari kita masing-masing. Maksudnya, kita tidak ikut-ikutan tanpa pikir panjang dan mempertimbangkan dampaknya, membagikan atau ngeshare postingan yang masuk ke akun  medsos kita.

“Ini nggak akan ramai kalau kita bisa kendalikan jempol. Kita nggak bisa menunggu pemerintah. Mereka juga jadi korban. Yang harus dilakukan adalah melawan sendiri. Minimal diri kita sendiri. Jangan ngeshare. Sesekali puasa digital. Sesekali nggak pegang handpone,” ungkapnya.

Menurut Widiarsi, pilihan untuk melawan pelintiran kebencian sangat banyak. Semua akun medsos, termasuk akun Facebook dan Google saat ini juga sudah melawan hate spin. Algoritme Facebook dan Google yang semula menempatkan kekerasan dan kebencian paling depan, sekarang sudah mulai diubah urutannya menjadi di bawah.

Cara lain mengakhiri pelintiran kebencian, yaitu membangun aliansi dari tiap-tiap pengelola portal dan membuat komitmen untuk menghindari kekerasan yang memicu kebencian dan kekerasan. Atau, gerakan tidak menyukai, dislike kepada pelaku hate spin. Dan, alternatif terakhir, gerakan hate spin (pelintiran kebencian) dilawan dengan kebalikannya, love spin. [RTS]