Ketua PUKAT UGM: Korupsi Lebih Terkait Etika

809
Ketua PUKAT UGM Zainal Arifin Mochtar. (Foto: Dok. Pukat UGM)
Ketua PUKAT UGM Zainal Arifin Mochtar. (Foto: Dok. Pukat UGM)

BULAKSUMUR, KAGAMA.CO — ‘’Bila korupsi itu seolah budaya, maka logikanya koruptor itu budayawan,’’ demikian salah satu satire yang dilontarkan Zainal A. Mochtar, di hadapan empat ratusan hadirin dalam acara Talkshow Nasional Indonesia Darurat Integritas: Respon dan Tantangan, di University Club UGM ruang Bulaksumur, Jumat (08/12).

Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Fakultas Hukum UGM itu menjelaskan adanya tipologi penjajahan yang berbeda-beda. Kalau Belanda itu cara berpikirnya mengambil sebanyak-banyaknya.

“Kalau Inggris, mengacu ke revolusi industri, cari pasar dengan mencari negeri jajahan. Mungkin ini yang menyebabkan itu [korupsi – red.] membudaya di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Zainal, hal itu juga dipengaruhi oleh kebiasaan orang Indonesia memberi hadiah untuk saling membantu. “Jadi marak terjadi joki,” kata Zainal.

Zainal melanjutkan, poin penting lainnya adalah korupsi tidak berkorelasi langsung dengan pengetahuan. Lebih terkait etika. Etika adalah dasarnya hukum.

“Ini catatan besar! Secara hukum sudah ada UU No. 28 Tahun 1999 tentang penyelenggara negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme,” tegasnya

Berbicara tentang media, Zainal menyatakan bahwa media punya agendanya tersendiri, punya tren yang dibangun, dan bisa dipakai untuk tujuan-tujuan tertentu.

“Padahal salah satu tugas media adalah mencerdaskan,” pungkasnya.

Acara ini merupakan salah satu rangkaian Dies Natalis UGM ke-68. Turut hadir sebagai pembicara antara lain Laode M. Syarif (Komisioner KPK), Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Mahfud MD (Akademisi), dan dimoderatori oleh Najwa Shihab. [Dito Anurogo/Citizen Journalism Kagama]