Kearifan Awig-Awig Lestarikan Jalak Bali

955

KELUARGA Mahasiswa Pascasarjana Biologi Universitas Gadjah Mada (KMP Biologi UGM) menyelenggarakan Talkshow Etnoekologi Indonesia, Sabtu (25/11/2017) bertema ‘’Harmonisasi Alam dan Manusia melalui Nilai Kearifan Lokal di Indonesia’’ di Auditorium Fakultas Biologi UGM. Talkshow yang dihadiri oleh 72 orang peserta dan 28 orang panitia itu sukses menghadirkan para pakar yang berkompeten di bidangnya, seperti Prof. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A., M. Phil., Ph. D dengan topik Etnoekologi Ditinjau dari Sisi Ilmu Anthropologi, Prof. Dr. I Gusti Putu Suryadarma, MS. Dengan topik Sustainable Life Based On Etnoecology, Dr. FX Sudaryanto, MS dengan topik Peran Awig-Awig dalam Menjaga Kelestarian Jalak Bali. Berikut laporan yang disampaikan dr. Dito Anurogo, M. Sc. [REDAKSI]

Heddy Shri Ahimsa Putra menjelaskan secara sistematis tentang etnosains dan etnoekologi. Guru besar jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada ini mengawali presentasinya dengan menjelaskan permasalahan antropologi sebagai ilmu, bagaimana kebudayaan sebaiknya dideskripsikan agar etnografi atau deskripsi kebudayaannya dapat sebanding, apa itu antropologi, dan apa itu etnografi. Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang memelajari kebudayaan. Etnografi adalah deskripsi atau pelukisan kebudayaan.

Peraih penghargaan Exemplary Lecturer I dari Universitas Gadjah Mada tahun 1995 kelahiran Yogyakarta, 28 Mei 1954 ini menjelaskan bahwa etnografi adalah bahan baku utama antropologi. Sehingga tanpa etnografi, tidak akan ada antropologi. Antropologi melakukan studi komparatif atau studi perbandingan kebudayaan. Kajian etnografi perlu sebanding, agar dapat dibandingkan, sehingga studi perbandingan kebudayaan (cross-cultural comparison) menghasilkan berbagai generalisasi tentang kebudayaan, lalu lahirlah ”hukum-hukum” berkenaan gejala kebudayaan.

Kebudayaan berarti sistem pengetahuan yang dimiliki oleh suatu kelompok manusia, komunitas, suku, suku bangsa. Adapun ethnoscience berasal dari ”ethnos” yang berarti bangsa, suku bangsa, dan ”scientia” yang bermakna ilmu pengetahuan, pengetahuan. Jelaslah bahwa mendeskripsikan kebudayaan berarti mendeskripsikan etnosains.

Etnosains mencakup amat banyak hal. Riset tak mungkin mencakup semua hal. Penelitian berfokus kepada satu gejala atau fenomena budaya tertentu. Suatu suku bangsa memiliki pengetahuan mengenai banyak hal, salah satunya adalah pengetahuan tentang lingkungan. Hal inilah yang dinamakan sebagai ethnoecology.

Pria yang pernah studi doktor tahun 1993 di Columbia University, United States ini mengatakan, ”Kajian etnosains dalam antropologi kini menjadi salah satu kajian yang tumbuh dan berkembang sangat pesat.” Hal ini menimbulkan ketertarikan ilmuwan dari disiplin lain, sehingga kajian etnosains menjadi kajian transdisipliner. Kajian etnosains dalam antropologi juga memunculkan kajian ”ethnoart”.