Liputan Lapangan ke Lombok : Eksplorasi Kerujuk dari yang Masih Asli [1]

235
Seni tradisional Lombok rudat menyambut rombongan Rektor UGM di Kerujuk Pemenang Lombok Utara NTB

REKTOR Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. beserta jajaran unsur pimpinan universitas mengunjungi mahasiswa UGM yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dusun Kerujuk Desa Pemenang Kecamatan Pemenang Barat Kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu (29/7/2017). Kunjungan berlanjut dengan reuni bersama alumni UGM serta Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Pengda Kagama) NTB dengan tajuk “UGM Menyapa Alumni”. Berikut catatan perjalanan R Toto Sugiharto yang mendapat kesempatan turut dalam kegiatan liputan lapangan bersama wartawan yang tergabung di Fortakgama Yogyakarta. [REDAKSI]

KAMI tiba di Dusun Kerujuk, Sabtu (29/7/2017) sekitar pukul 09:00 WITA. Udara cerah. Segenap perangkat dusun, desa, kecamatan, dan juga Kepala Dinas Pariwisata (Kadisparta) Lombok Utara Muhammad, S. Pd. menyambut kehadiran Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng, D. Eng. beserta rombongan dari Kampus Biru. Sebuah kesenian tradisi setempat, Rudat didendangkan oleh beberapa remaja setempat.

Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng, D. Eng. mendapat kalungan lempot, semacam selendang dibuat dari tenun khas suku Sasak. Juga,  Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni Dr. Paripurna P Sugarda, S. H., M. Hum., LLM bersama Prof. Dr. Suratman, M. Sc. dan rombongan dari Rektorat serta Bagian Humas dan Protokol UGM. Setelah semua mendapat kalungan lempot sebagai pemberian hormat kepada tamu, kami mulai menyusuri dusun tersebut.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni Dr. Paripurna P. Sugarda, S. H., M. Hum., LLM menunjukkan hasil kerajinan warga Kerujuk bersama Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. (tengah) dan Kadisparta Lombok Utara Muhammad, S. Pd. (kanan) (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni Dr. Paripurna P. Sugarda, S. H., M. Hum., LLM menunjukkan hasil kerajinan warga Kerujuk bersama Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. (tengah) dan Kadisparta Lombok Utara Muhammad, S. Pd. (kanan) (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Udara masih bersih dan menyegarkan. Suasana di sekeliling pun masih alami. Dari Lalu Jayadi, warga suku Sasak asli yang memandu perjalanan, kami diterangkan makna “kerujuk” yang artinya “kepiting”. Sebermula, tutur Lalu Jayadi, kawasan dusun itu terdapat banyak kepiting yang berbiak di sungai yang membelah dusun. Hingga kini air sungai masih jernih dan bebas dari polusi atau tercemar limbah.

Sungai Putih, demikian menurut  Muhammad,  yang baru resmi menjabat  Kadisparta pada 17 Juli 2017, berhulu  dari lereng  Gunung Rinjani. Kini, sungai itu dikembangkan menjadi  bagian dari destinasi wisata baru. Dengan kata lain, alam bagian dari aset untuk dikelola menjadi paket wisata. Dilengkapi dengan  seni budaya menjadi lebih komplit.

“Ini tantangan besar. Perlu jiwa visioner dan motivasi yang bagus. Kehadiran mahasiswa KKN UGM sangat luar biasa bermakna bagi kami,” ujar Muhammad yang dikenal juga sebagai ustadz.

Prof. Panut Mulyono memberi pakan sapi, sebuah kebiasaan yang tidak asing bagi Rektor UGM itu di masa remajanya, demikian disampaikannya kepada mahasiswanya (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Prof. Panut Mulyono memberi pakan sapi, sebuah kebiasaan yang tidak asing bagi Rektor UGM itu di masa remajanya, demikian disampaikannya kepada mahasiswanya (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Muhammad menambahkan, tentu bukan sebuah kebetulan ketika UGM menempatkan mahasiswa KKN di Kerujuk. Karena, masyarakat Kerujuk memang tengah menanti banyak masukan terkait tata cara mengelola pariwisata. Pada saat bersamaan mereka tengah mengembangkan kawasan tersebut dengan menempatkan potensi  dan daya tarik untuk menjadi destinasi wisata. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara menempatkan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan di Lombok Utara.

Karena itu, dengan kehadiran mahasiswa UGM, terjadi akulturasi dengan masyarakat setempat. Maka, lanjut Muhammad, timbul percepatan dalam berinovasi dan nilai tambah. “Kami terima kasih diberi mahasiswa KKN dan welcome dengan mahasiswa untuk bekerjasama lebih lanjut. Bersama Dewan Riset kami juga mohon dikawal bagaimana membangun Lombok Utara, khususnya pada pengembangan pariwisata dan sektor ekonomi lainnya,” cetusnya.

Rektor UGM menyempatkan menikmati jajan pasar, khas kuliner Lombok, NTB (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Rektor UGM menyempatkan menikmati jajan pasar, khas kuliner Lombok, NTB (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Salah satu mahasiswa UGM yang tengah menempuh KKN di Kerujuk, Ridho juga berasal dari Lombok Tengah. Sehingga, ia bisa membandingkan suasana alam dan budaya Dusun Kerujuk yang dinilainya masih otentik. Masyarakat setempat juga masih memertahankan adat. Keadaan tersebut berbeda dengan di daerah tempat tinggalnya, di Lombok Tengah yang sudah mulai meninggalkan eksotika budayanya sehingga tidak lagi otentik.

“Di Kerujuk ini lebih asli. Belum masuk yang modern. Adat masih kental. Di Lombok Tengah sudah mulai melupakan budayanya,” ungkap Ridho yang kedua orangtuanya juga asli suku Sasak, Lombok.

Dalam amatan Ridho, Dusun Kerujuk memang masih proses merintis menjadi Desa Wisata. Karenanya, beberapa fasilitas umum memang belum dikelola, seperti  sanitasi, toilet, tempat sampah, juga parkir. “Mungkin disesuaikan dengan  kebutuhan. Kalau homestay sudah dibangun,” ujarnya menambahkan. [rts]