Pengunjung Apresiasi dan Sambut Baik Wastra Indonesia

194

DEN HAAG, KAGAMA – Peragaan busana songket dan endek Gianyar, anggota Dharma Wanita Persatuan turut memeragakan hasil rancangan para desainer dari Galeri Batik Jawa, Yogyakarta. Selain itu, ada juga peragawan dan peragawati dari Yogyakarta dan Belanda turut dalam peragaan. Koleksi yang ditampilkan Galeri Batik Jawa dalam dua hari, Senin – Selasa (24–25/7/2017) malam itu meliputi busana-busana untuk empat musim, yaitu semi, panas, gugur, dan musim dingin.

Pengunjung mengapresiasi  busana dari para perancang Bali dan Yogya bagus dipakai di Belanda (Foto ISTIMEWA)
Pengunjung mengapresiasi busana dari para perancang Bali dan Yogya bagus dipakai di Belanda (Foto ISTIMEWA)

Fashion Show Wastra Indonesia mendapat sambutan baik dari para pengunjung. “Excellent!” Demikian komentar Duta Besar Austria untuk Kerajaan Belanda, Heidemaria Gürer, yang malam itu hadir bersama putrinya. Gürer mengaku sangat terkesan dengan pergelaran malam itu, yakni peragaan busana yang dipadu dengan penampilan tari-tarian dan musik dari Indonesia. “Sangat bagus. Congratulation!,” ia menambahkan.

Pengunjung mengaku banyak mendapatkan informasi dan pengetahuan banyak dari forum seminar selain fashion show  (Foto ISTIMEWA)
Pengunjung mengaku banyak mendapatkan informasi dan pengetahuan banyak dari forum seminar selain fashion show
(Foto ISTIMEWA)

Komentar serupa juga disampaikan Lara Peeters dari Rotterdam. “Mooi!”, katanya dalam Bahasa Belanda, yang artinya bagus. “Acaranya, koleksi yang ditampilkan, semuanya bagus,” Lara menambahkan. Menurut Lara, yang memiliki toko fashion online, sebagian besar busana dari para perancang Bali dan Yogyakarta yang ditampilkan malam itu cukup bagus untuk dipakai di Belanda. “Style-nya modern,” katanya lagi.

Lara juga memuji penyelenggaraan seminar yang dilaksanakan Senin, 24 Juli 2017, di Aula Nusantara KBRI Den Haag. Seminar yang juga dihadiri Duta Besar Vietnam untuk Kerajaan Belanda, Ngo Thi Hoa,  menampilkan dua pembicara, yakni Laretna T. Adishakti dari Galeri Batik Jawa, Yogyakarta, dengan presentasinya berjudul “Jogja, the World Batik City” dan Prof. I. Wayan Dibia, dengan presentasi berjudul “Traces of Gianyar Arts and Woven Fabric.” Sebagai moderator adalah Sandra Niessen, seorang antropolog dan penulis buku Legacy in cloth: Batak Textiles of Indonesia.

Peragawan dan peragawati dari Yogyakarta dan Belanda turut dalam peragaan (Foto ISTIMEWA)
Peragawan dan peragawati dari Yogyakarta dan Belanda turut dalam peragaan (Foto ISTIMEWA)

“Seminar ini merupakan suatu pendidikan yang baik untuk kita semua,” kata Lara. “Sebab, lewat seminar ini kita bisa menyaksikan the real story di balik karya-karya yang diperlihatkan di sini. Menurut saya, acara ini harus dibuat lebih besar, sehingga promosi untuk tekstil Indonesia pun akan makin luas.”

Peragawati berkebangsaan Eropa turut memeriahkan ajang fashion show Wastra Indonesia 2017 (Foto IStimewa)
Peragawati berkebangsaan Eropa turut memeriahkan ajang fashion show Wastra Indonesia 2017 (Foto IStimewa)

Peserta lain, Inge Dumpel, juga mengaku sangat terkesan dengan penyelenggaraan seminar. “I’m impressed! Acara ini sungguh luar biasa. Kontennya bagus. Demikian juga para pembicaranya. Mereka menyampaikan presentasi dengan sangat jelas,” kata Inge Dumpel, redaktur pada Indisch Historisch.nl, sebuah laman khusus sejarah berbahasa Belanda. “Dari seminar ini, saya mendapat tambahan pengetahuan yang cukup banyak,” pungkasnya [rts]