Arsitektur Cerminkan Puncak Karya Budaya Suku Bangsa

277

BULAKSUMUR, KAGAMA – Karya arsitektur memiliki potensi untuk memertahankan sekaligus memerkokoh identitas dan kekhasan masyarakat pemilik kebudayaan. Sekaligus pula menegaskan keaslian yang dimiliki masyarakat. Potensi tersebut meneguhkan kekuatan masyarakat pemilik kebudayaan untuk tetap memiliki semangat dan antusiasme tinggi dalam memertahankan eksistensinya.

Prof. Ir. T. Yoyok Wahyu Subroto, M. Eng., Ph. D. menyampaikan hal itu dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Arsitektur. Pengukuhan tersebut dilaksanakan pada Selasa (11/7/2017) di Balai Senat UGM.

Dalam pidato pengukuhan berjudul “Sinergi Arsitektur dan Kearifan Budaya untuk Masa Depan Peradaban Nusantara”, Prof Yoyok menyampaikan pokok-pokok gagasan mengenai eksistensi arsitektur di wilayah Nusantara mencerminkan puncak-puncak karya budaya suku bangsa. Ia menjelaskan, Nusantara merupakan ruang kosmologis yang secara kultural mengikat karya suku bangsa yang beragam terutama dalam bentuk bangunan arsitektural.

“Secara keseluruhan ikatan budaya yang secara arsitektural disatukan oleh konsep ruang kosmologis telah membentuk bidang permukaan puncak budaya Nusantara. Hal tersebut sekaligus menyentuh permukaan peradaban Nusantara yang dibangun berdasarkan horizon peradaban terluas dari seluruh karya budaya manusia di Nusantara,” terangnya.

Di awal pidatonya, Prof Yoyok menjelaskan perihal salah satu dari empat fase cara menghuni (living style), yaitu domestic architecture. Fase tersebut merujuk pada pengembangan eksperimental manusia dalam membangun bangunan hunian yang diwarnai oleh kompleksitas budaya dan pragmatisme struktur kegiatan manusia serta lingkungan alamnya secara spasial.

Proses tersebut kemudian memengaruhi pengembangan teknik dan bentuk bangunan yang digunakan untuk mewujudkan  ruang hunian sesuai karakter budaya setempat. Secara semantik, elemen ruang hunian dan bangunan huniannya diekspresikan melalui simbol-simbol yang tertera di elemen bangunan huniannya.

Selanjutnya, disampaikan pada penutup pidatonya, melalui pengembangan ilmu antropologi, arsitektur memiliki peran, fungsi, dan kekuatan luar biasa dalam memberikan kontribusi terhadap pilar peradaban Nusantara. Namun demikian, untuk mencapainya setidaknya ada beberapa syarat. Yakni, kesadaran tinggi para arsitek terhadap pemahaman identitas dan autentisitas budaya. Selanjutnya yaitu, adanya inisiatif positif dari para arsitek menjadikan budaya sebagai basis dan orientasi ide. Syarat terakhir yakni, adanya kesadaran dari masyarakat pemilik kebudayaan untuk secara konsisten memertahankan kearifan budayanya dalam karya arsitektur.

“Jika ketiga hal tersebut dapat dicapai maka bukan mustahil bahwa peradaban Nusantara yang didukung ilmu antropologi arsitektur bukan sekadar utopia semata tetapi benar-benar dapat eksis,” pungkasnya. [Humas UGM/Catur/foto: Firsto AP/rts]