Mahasiswa UGM Teliti Nilai Budaya Tradisi Macanan Cilacap

288

BULAKSUMUR, KAGAMA – Komunitas Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) merupakan himpunan yang dibentuk oleh pemerintah Cilacap, Jawa Tengah guna mewadahi berbagai komunitas kepercayaan leluhur yang ada di daerah tersebut. Hingga saat ini tercatat lebih dari 30 komunitas kepercayaan yang tetap eksis melangsungkan kegiatannya, salah satunya komunitas HPK Naluri Penyadran Adipala, Cilacap.

Saat ini komunitas HPK Naluri Penyadran menjelma menjadi komunitas mayoritas yang sebelumnya minoritas di Adipala. Komunitas ini sering dikenal dengan sebutan anak putu macanan dengan jumlah anggota lebih banyak dibandingkan dengan yang lain. Selain itu, juga memiliki kegiatan ritual tahunan yang menjadikannya dikenal oleh masyarakat secara meluas.

“Ritual yang paling ditunggu komunitas ini yaitu tradisi nyadran atau nama populer di masyarakat tradisi macanan,” jelas Rofi, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, Rabu (21/6/2017) di kampus UGM.

Rofi dan kawan kuliahnya di Kampus Biru pun tertarik untuk melaksanakan penelitian. Rofi memasukkan kegiatan risetnya dalam Program Kreativitas Mahasiswa UGM 2017 bersama Mochammad Lathif Amin (Fakultas Filsafat) dan Novi Widiastuti (Fakultas Teknologi Pertanian). Ketiganya berupaya mengkaji lebih jauh nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi macanan. Hasilnya, diketahui tradisi nyadran dianggap sebagai bentuk rasa hormat anak putu kepada leluhur yang telah melaksanakan kegiatan sejak dahulu dan memberikan ajaran-ajaran kepada keturunannya dalam bentuk perilaku.

Tradisi Macanan dilestarikan masyarakat yang tergabung dalam komunitas Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK Cilacap, Jawa Tengah hingga kini (Foto ISTIMEWA)
Tradisi Macanan dilestarikan masyarakat yang tergabung dalam komunitas Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK Cilacap, Jawa Tengah hingga kini (Foto ISTIMEWA)

Di samping itu, sikap keteladanan dalam melestarikan kebudayaan menjadi salah satu pendorong keturunan anggota komunitas atau uang disebut anak putu macanan untuk terus melanjutkan tradisi dan ajaran nenek moyang.

“Ajaran mikul dhuwur mendhem jero menjadi kunci dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat bagi anggota komunitas macanan,” ungkap Rofi.

Pemaknaan ajaran tercermin dalam perilaku di kehidupan keluarga dan masyarakat dengan cara mengangkat derajat orangtua. Selain itu, juga menutup segala bentuk permasalahan yang ada dalam keluarga untuk tidak menjadi bahan konsumsi publik. Pola ajaran inilah membentuk karakter tersendiri antara anak putu macanan dengan masyarakat lainnya yang berada di daerah tersebut.

“Karakter yang kuat pada keturunan komunitas HPK menjadikan komunitas ini tetap eksis dan berkembang semakin pesat di tengah derasnya arus globalisasi,” ujarnya.

Rofi berharap hasil penelitiannya dapat memberikan sumbangsih bagi pendidikan karakter bangsa. Ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi macanan  diharapkan dapat memberikan stimulus baru semangat mikul dhuwur mendhem jero dalam pendidikan karakter bangsa untuk diterapkan di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ditambahkan Rofi, tradisi macanan merupakan sebuah tradisi napak tilas dalam rangka ziarah makam leluhur yang dipercaya sebagai tokoh pembabad tanah Cilacap, salah satunya Eyang Bonokeling. Menurut para bedogol atau pimpinan komunitas Naluri Penyadran, tradisi sadranan dilaksanakan tiga kali dalam satu tahun menjelang bulan Ramadhan. Penanggalan sistem aboge membuat anggota komunitas mengetahui kapan tradisi tersebut dilakukan setiap tahun.

Terdapat beberapa ritual dalam tradisi ini. Dimulai dari bersuci dilanjutkan doa yang dibarengi dengan membakar dupa atau kemenyan yang telah disiapkan. Kemudian bersih taman secara bergantian. Setelah itu melakukan ritual “salam bekti” yaitu saling meminta maaf antara anak putu macanan kepada para bedogol. Setelah keseluruhan ritual selesai, anak putu macanan kembali ke lokasi kumpul di pasemuan dan melakukan selametan. [Humas UGM/Ika/rts]