Fitria Ungkap Kearifan Lokal Masyarakat Pembuat Pinisi

659
Perahu Pinisi karya masyarakat Bon Bahari di Bulukumba SUlawesi Selatan (Foto ISTIMEWA)
Perahu Pinisi karya masyarakat Bon Bahari di Bulukumba SUlawesi Selatan (Foto ISTIMEWA)

BULAKSUMUR, KAGAMA – Masyarakat Bonto Bahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan dikenal piawai di bidang bahari. Mereka juga termasyhur sebagai ahli pembuat perahu Pinisi. Bahkan, di Bulukumba menjadi sentra industri pembuatan perahu terbesar di Indonesia. Karenanya, tidak mengherankan jika Bonto Bahari dijuluki sebagai “Butta Panarita Lopi” atau negeri para pembuat perahu.

Masyarakat Bonto Bahari bergotong royong membuat perahu Pinisi (Foto ISTIMEWA)
Masyarakat Bonto Bahari bergotong royong membuat perahu Pinisi (Foto ISTIMEWA)

Keahlian pembuatan perahu masyarakat Bonto Bahari dipercaya secara turun temurun dengan mitologi Saweregading. Hal ini menjadi ciri khas bagi masyarakat Bonto Bahari. Pembuatan perahu memiliki sejarah dan nilai tersendiri bagi komunitas pembuatnya di Bonto Bahari.

“Hal ini tidak terlepas dari kebudayaan dan spirit dari masyarakat pembuatnya. Perahu merupakan artefak sejarah  dan representasi budaya maritim yang memberikan gambaran terhadap suatu masyarakat yang memiliki gagasan, motivasi, prinsip, dan visi mengenai laut,” papar Fitria Nugrah Madani, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, Jumat (16/6/2017).

Masyarakat saling bekerjasama antardesa dalam pembuatan perahu yang dibuat dengan teknologi yang cukup kompleks (Foto ISTIMEWA)
Masyarakat saling bekerjasama antardesa dalam pembuatan perahu yang dibuat dengan teknologi yang cukup kompleks (Foto ISTIMEWA)

Perahu Pinisi yang diproduksi masyarakat telah menjadi simbol lokal daerah Kabupaten Bulukumba maupun Indonesia. Pinisi  merupakan kapal layar sekunar yang bentuknya memiliki nilai keindahan tersendiri dan telah melakukan perjalanan ke Vancover Kanada dan ke Madagaskar.

Masyarakat Bonto Bahari menyimbolkan perahu sebagai mikro kosmos, menjadi bagian integral dari keselarasan antara manusia dengan laut atau alam (Foto ISTIMEWA)
Masyarakat Bonto Bahari menyimbolkan perahu sebagai mikro kosmos, menjadi bagian integral dari keselarasan antara manusia dengan laut atau alam (Foto ISTIMEWA)

“Pinisi ini  diyakini menjadi simbol terhadap nilai-nilai kebudayaan dan tradisi komunitas konjo pesisir pembuat  perahu di Bonto Bahari,” jelasnya.

Nilai budaya tradisi komunitas konjo Bonto Bahari membuat masyarakat setempat dikenal hingga tingkat dunia (Foto ISTIMEWA)
Nilai budaya tradisi komunitas konjo Bonto Bahari membuat masyarakat setempat dikenal hingga tingkat dunia (Foto ISTIMEWA)

Fitria bersama ketiga temannya, yaitu Reza Ayu Safitri, Nanda Amalia, Andrea Nurrosa Khalis berusaha mengungkap lebih mendalam kearifan lokal komunitas konjo pesisir pembuat perahu di Bonto Bahari. Mereka tergabung dalam kelompok penelitian Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM PSH) UGM.

Tidak sedikit masyarakat dunia yang tertarik pada perahu Pinisi dengan melakukan riset (Foto ISTIMEWA)
Upacara adat tradisi budaya masyarakat Bonto Bahari merepresentasikan kearifan lokal yang dilestarikan oleh generasi penerus hingga kini (Foto ISTIMEWA)

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat tradisi dan upacara tertentu yang menyimbolkan perahu sebagai “mikro kosmos”. Masyarakatnya saling bekerjasama antardesa dalam pembuatan perahu yang dibuat dengan teknologi yang cukup kompleks. Selain itu, terdapat sejumlah kepercayaan sebagai representasi pembuatan perahu di Bonto Bahari tidak terlepas dari keselarasan antara manusia dengan laut atau alam.

Sebuah perahu Pinisi hasil karya masyarakat Bonto Bahari Bulukumba, Sulawesi Selatan siap berlayar mengarungi samudera raya (Foto ISTIMEWA)
Sebuah perahu Pinisi hasil karya masyarakat Bonto Bahari Bulukumba, Sulawesi Selatan siap berlayar mengarungi samudera raya (Foto ISTIMEWA)

“Nilai-nilai dan budaya tradisi komunitas konjo Bonto Bahari membuat masyarakat setempat dikenal hingga tingkat dunia. Bahkan, tidak sedikit masyarakat dunia yang tertarik untuk membuat perahu seperti Pinisi ini,” terangnya. [Humas UGM/Ika/rts]