Penelitian EDP Masuki Babak Akhir

157

BULAKSUMUR, KAGAMA – Penelitian tentang penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang dilaksanakan oleh Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta berkoordinasi dengan Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada dan didanai oleh Yayasan Tahija, tengah memasuki babak akhir.

Penelitian pengendalian DBD menggunakan bakteri alami Wolbachia itu telah dilaksanakan sejak  2011. Penelitian ini dilaksanakan oleh Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan didanai oleh Yayasan Tahija.

Dengan memasukkan bakteri Wolbachia sebagai bakteri alami yang terdapat di sebagian besar serangga, terbukti mampu menghambat virus DBD di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.

Peneliti utama EDP Yogyakarta, Prof dr Adi Utarini, M Sc, MPH, Ph D mencermati penyakit DBD termasuk kategori terabaikan atau kurang diperhatikan. Karenanya, guru besar Fakultas Kedokteran UGM yang akrab disapa Prof Uut berharap momentum ASEAN Dengue Day yang diperingati setiap 15 Juni dapat meningkatkan perhatian seluruh pihak sesuai tema ADD 2017, yaitu “United Fight against Dengue

Rekomendasi WHO

Entomolog atau ahli serangga Warsito Tantowijoyo, Ph D menjelaskan, teknologi yang digunakan EDP terbukti aman. Dari kajian analisis risiko oleh tim independen pun menunjukkan risikonya dapat diabaikan (negligible risk).

Penelitian EDP mendapat respons dari sejumlah tokoh penting, seperti Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, Kemenristek Dikti, dan Direktur WHO-TDR. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melalui kelompok penasihat pengendalian vektor (VCAG) memberikan rekomendasi agar EDP Yogya melanjutkan penelitian pada skala lebih luas untuk memperoleh bukti epidemiologis.

Warga Kelurahan Suryatmajan turut serta membantu peletakan ember nyamuk ber-Wolbachia 17 Mei 2017 (Foto Dok EDP Yogyakarta)
Warga Kelurahan Suryatmajan turut serta membantu peletakan ember nyamuk ber-Wolbachia 17 Mei 2017 (Foto Dok EDP Yogyakarta)

Rekomendasi itu telah dilaksanakan EDP Yogya, dengan meletakkan 5.000-an ember pada Maret lalu. Sedangkan pada  Mei timnya telah menghentikan peletakkan 2.000-an ember tahap pertama. “Ember-ember itu berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia yang siap menetas dan tumbuh dewasa,” terang Warsito.

Selanjutnya nyamuk yang terbukti aman dari virus DBD ini akan keluar dari ember dan kawin dengan nyamuk setempat yang tidak ber-Wolbachia. Nyamuk Aedes aegypti jantan yang ber-Wolbachia ketika kawin dengan nyamuk lain maka telurnya akan “gabuk” alias tidak akan menetas.

Sedangkan  nyamuk Aedes aegypti betina yang ber-Wolbachia yang kawin dengan nyamuk Aedes aegypti lokal akan menghasilkan keturunan yang sudah ber-Wolbachia.

Dikatakan Warsito, hasil pemantauan persentase Wolbachia pun sangat menggembirakan. “Persentase Wolbachia di wilayah peletakan tahap pertama sangat tinggi,” jelas Warsito.

Ia menambahkan bahwa Wolbachia akan bertahan secara berkesinambungan di wilayah tersebut meski timnya telah menghentikan peletakan ember. Dukungan masyarakat dan pemangku kepentingan membuatnya optimis penelitian ini akan berhasil.

Menurutnya, dukungan tersebut diberikan karena teknologi ini tidak mengubah kebiasaan masyarakat dan dapat disinergikan dengan metode pengendalian lain yang telah lebih dahulu dijalankan. [rts]