Gastronomi Mampu Naikkan Target Kunjungan Wisatawan Internasional

91

SAN SEBASTIAN, KAGAMA – Pemerintah Indonesia menaikkan target jumlah wisatawan internasional yang berkunjung ke Indonesia hingga mencapai kisaran 150% pada 2019. Jika pada 2014 jumlah wisatawan internasional hanya enam juta pengunjung per tahun maka pada 2019 ditargetkan naik menjadi 15 juta pengunjung. Salah satu sektor yang mampu mendongkrak peningkatan jumlah wisatawan internasional adalah gastronomi (keahlian bidang kuliner).

Penetapan target itu disampaikan Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata Indonesia, Ir Ravita Datau Mesakh sebagai pembicara pada sesi  Gastronomy Network on Succesful Examples di Kota San Sebastian, Spanyol. Sesi tersebut bagian dari World Forum on Tourism Gastronomy yang berlangsung pada 7–9 Mei 2017.

Sementara itu, pada Jamuan Santap Malam dengan tuan rumah Menteri Pariwisata Argentina, Gustavo Santos, Duta Besar RI di Madrid/Wakil Tetap RI pada UNWTO, Yuli Mumpuni Widarso menyampaikan penghargaan kepada Taleb Rivai selaku Sekjen UNWTO. Taleb dinilai  berinisiatif menyediakan forum bagi semua negara anggota untuk bertukar pengalaman dan membangun kerjasama.

“KBRI Madrid sangat mendukung langkah UNWTO dan akan terus mendorong semua pemangku kepentingan pariwisata di Indonesia untuk memanfaatkan program-program yang tersedia di UNWTO,” ujar alumnus FISIPOL UGM Angkatan 1975.

Promosi filosofi gastronomi khas Indonesia yang berakar pada makanan (food), budaya (culture), dan sejarah (history) pada World Forum on Tourism Gastronomy di San Sebastian, Spanyol. (foto ISTIMEWA)
Promosi filosofi gastronomi khas Indonesia yang berakar pada makanan (food), budaya (culture), dan sejarah (history) pada World Forum on Tourism Gastronomy di San Sebastian, Spanyol. (foto ISTIMEWA)

Triangle Concept

Pada sesi diskusi yang diselenggarakan Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) itu, Ravita yang juga Ketua Akademi Gastronomi Indonesia (AGI) mengungkap, Indonesia memiliki filosofi gastronomi yang digali melalui serangkaian riset dan diskusi bersama pemangku kepentingan di tanah air.

Dari hasil diskusi kalangan pakar, keluarlah konsep gastronomi Indonesia yang disebut Triangle Concept. Yakni, filosofi gastronomi berporos pada tiga tungku segitiga, masing-masing makanan (food), budaya (culture), dan sejarah (history).

Antara food dan history dihubungkan oleh spices (rempah-rempah). Kemudian, antara history dengan culture dihubungkan oleh storytelling (hikayat). Sedangkan antara culture dengan food  terhubungkan oleh ritual/ceremony (upacara).

Ravita mencontohkan, salah satu produk kuliner khas Indonesia yang memenuhi kriteria gastronomi adalah rendang. Kriteria gastronomi terpenuhi antara lain terdapat proses pembuatan yang dinamakan marandang.

Selain itu, filosofi dari setiap unsurnya, seperti daging mencerminkan prosperity (kesejahteraan), rempah-rempah mencerminkan enhancement (peningkatan), santan kelapa untuk integrator dan cabe merah untuk good lesson (pelajaran baik). Unsur filosofi dapat mendukung pariwisata gastronomi. (rts)