Cara Praktis Anak Menguasai Multibahasa

263
Jpeg

YOGYAKARTA, KAGAMA – Banyak orangtua menginginkan anak-anaknya menguasai  beragam bahasa asing. Karena itu, sejak kecil anak-anak pun “dipaksa” ikut berbagai les bahasa asing. Namun, sering kali yang terjadi anak justru tertekan karena secara psikologis belum mampu memelajari banyak bahasa dalam waktu bersamaan. Benarkah demikian?

Kemampuan berbahasa daerah di rumah, berbahasa Indonesia di lingkungan sekitar, berbahasa Inggris di sekolah, hingga mengerti bahasa Al Quran, ternyata bisa dilakukan bersamaan. Melalui metode yang mengasyikkan, anak-anak tidak merasa bahwa mereka sedang belajar.

Hal itu menjadi topik pembahasan dalam talkshow Raudhatul Athfal Afkaaruna, Minggu (23/04/17) di aula YAP Square. Talkshow menghadirkan Dyan Widya  Agustina, Peraih Australia Awards 2017 yang juga  guru SDI Tunas Bangsa Samarinda, Kalimantan Timur. Ada pula Abdul Gafar Karim, dosen FISIPOL UGM.

Menurut Dian, secara umum ada hal yang memengaruhi kemampuan berbahas asing pada anak, yakni bakat (nature) dan paparan lingkungan (exposure). “Seringkali anak ingin belajar bahasa asing tapi lingkungan kurang mendukung. Sebaliknya, lingkungan  mendukung pembelajaran namun anak yang kurang tertarik” kata Dyan.

Oleh karena itu, peran orangtua, khususnya ibu, dalam keluarga sangat sentral dalam mengenalkan bahasa kepada anak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dyan mencontohkan anak dapat belajar bahasa asing dengan cara yang menyenangkan melalui  membaca dan menonton film yang disesuaikan dengan usia anak.

Dalam kesempatan tersebut Abdul Gafar Karim dan istrinya, Siti Qudsiati Utami berbagi cerita  tentang mengajarkan multibahasa kepada tiga anak mereka, Perdana, Afkar, dan Nida. Gafar yang berasal dari Madura menuturkan, saat berkomunikasi bersama istrinya ia sering menggunakan bahasa Madura dan Jawa yang merupakan akar budaya dirinya dan istrinya.

Kemudian, dalam bercakap-cakap dengan anak ia membiasakan anaknya berbahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris yang pemakaiannya disesuaikan dengan kondisi. Gafar yang menempuh pendiidkan S2 dan S3  di Australia, awalnya memotivasi dua putranya belajar bahasa Inggris. Karena, bahasa Inggris menjadi bahasa pengetahuan dan tak ingin anaknya lupa kemampuan berbahasa Inggris sewaktu ikut serta tinggal di Australia.

Sedangkan putri bungsunya, selain belajar bahasa Inggris dari kedua kakaknya, juga belajar dari buku bacaan dan film. Hasilnya, Nida yang kini masih berusia empat tahun cukup fasih berbahasa Inggris. Salah satu peserta talkshow, Zakiyah menilai keluarga Abdul Gafar Karim sebagai contoh keluarga yang sukses mengajarkan multibahasa. [Wempi Gunarto]