Green Network Indonesia dan Komedian Yogya Gelar Aksi Bela Tawa 123

175
????????????????????????????????????

YOGYAKARTA, KAGAMA — Berbagai aksi dengan penanda angka tanggal dan bulan yang merebak di ibukota beberapa waktu lalu, seperti 411, 212, dan 112  menjadi bahan parodi bagi pengurus dan relawan Green Network Indonesia (GNI) serta seniman komedian dan musik humor Yogyakarta. GNI bekerjasama dengan komedian dan seniman musik humor menggelar Aksi Bela Tawa 123 Sayang Semuanya: Bersatoe Oentoek Loetjoe, Minggu (12/3/2017) malam di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.

Sejumlah komedian dan seniman musik Yogyakarta bersama pengurus dan relawan GNI pun tampil dengan jenaka. Turut mendukung pertunjukan, Miss Indonesia Earth Fransiska Indrayani Marpaung, S Ked yang juga pengurus GNI Jawa Timur. GKR Pambayun, putri sulung Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X pun menyaksikan pertunjukan penuh humor itu. Pengusaha Yani Sapto Hudoyo ikut mendampingi putri Sultan duduk di kursi paling depan.

Ketua Umum Yayasan GNI Dr Ir Transtoto Handadhari SHA, MSc, PhD mengatakan, dalam mengimplementasikan visi dan misi, GNI menggunakan media seni budaya untuk menyebarkan virus program pelestarian lingkungan melalui seni, seperti yang telah dilakukan melalui ketoprak. Kali ini, GNI bekerjasama dengan komedian dan seniman musik humor mengemas pagelaran Aksi Bela Tawa sebagai respons atas kondisi sosial yang tengah goyah di ibukota.

“Dengan mengangkat tema ini kita ingin sesama anak bangsa jangan saling mencaci maki ataupun dendam. Kita ingin pembangunan disikapi dengan humor, dengan sindiran. Kita pentaskan dengan cara tertawa bersama-sama. kKta bisa merasakan, kalau tidak saling menghujat, kita bisa kok mengatur negeri,” ucap alumnus Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 1971.

Meskipun disajikan dengan penuh guyonan, namun misi GNI tetap membangun Indonesia tanpa kecurangan atau yang dikenal dengan jargon No Cheating Indonesia, mulai dari masyarakat pinggiran sampai pemimpin di elit birokrasi pemerintahan. Mengingat, menurut Transtoto, dengan dikemas melaluis seni budaya, pesan pun relatif lebih mudah diterima masyarakat luas.

Dalam pentas seni drama musik komikal yang disutradarai Agus Kencrot itu dikisahkan tentang aksi ilegal logging (pembalakan liar). Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM Prof Dr Ir Cahyono Agus Dwi Koranto, M Agr Sc berperan sebagai Pak Bos yang menjadi cukong dalam kasus pembalakan liar. Namun, di dusun itu ia mendapat penolakan dari warga yang memiliki tokoh bernama Pak Bijak (diperankan Transtoto). Setelah mendapat nasihat dari Pak Bijak, akhirnya Pak Bos insaf dan membatalkan aksi penebangan pohon secara ilegal.

Sepanjang pertunjukan, penonton terhibur oleh gaya lawakan Agus Kencrot, Bambang Gundul, Dibyo Primus, Anang Batas, Mamiek Slamet, dan lainnya. Permainan musik dari dua kelompok musik humor, Sri Redjeki dan Kelompok Suara Ratan pun mampu mengocok perut penonton dari awal hingga akhir pertunjukan. Turut memeriahkan pertunjukan dengan tembang penutup “Lestari Alamku” yang dibawakan oleh Diplomat Senior Rudhito Widagdo, SH MBA yang juga alumnus Fakultas Hukum UGM. Sementara itu, usai pertunjukan berakhir, relawan dari GNI dipimpin Transtoto dan Cahyono membagikan bibit tanaman sengon dan jati sebagai simbol pelaksanaan program pelestarian lingkungan yang menjadi misi utama GNI. GKR Pambayun dan Yani Sapto Hudoyo pun menerima pembagian kedua jenis tanaman itu, diikuti penonton lainnya. [R Toto Sugiharto]