Tiga Faktor Warnai Ekonomi Indonesia 2017

30

BULAKSUMUR, KAGAMA. Tiga faktor penting yang akan mewarnai ekonomi Indonesia 2017. Pertama, kehadiran Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat yang sebenarnya tidak diharapkan oleh masyarakat dunia. Trump disinyalir akan banyak menerapkan kebijakan yang proteksionistik terhadap negaranya, Amerika Serikat. Bahkan, para ekonom menyebut saat ini merupakan The End of Liberalism, akhir era liberalisme dan globalisasi.

“Era yang disebut the end of liberalism dan juga berakhirnya era globalisasi ini akan mengancam ekonomi dunia. Tapi, ada pihak masih optimistik yang melihat Trump akan berbeda antara sebelum dan sesudah menjadi presiden,” ungkap pengamat ekonomi makro Dr A Tony Prasentiantono dalam talkshow Teras Kita bertajuk Indonesia Outlook 2017 di Ruang Poerbatjaraka Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta, Jumat (16/12) pagi.

Tony lebih lanjut memrediksi kemungkinan Trump mengubah sikap politik antara sebelum dan sesudah ia menjadi presiden AS. Salah satu faktor yang mendorong Trump berubah karena ekonomi AS mengalami defisit 380 biliun.

Faktor kedua, harga komoditas yang membaik. Harga minyak membaik. Produksi minyak Indonesia 800 ribu barel per hari. Bila hargabatubara Faktor ketiga, tax amnesty. Kalau bisa dijaga momentumnya seperti yang kemarin sehingga berhasil bisa jadi entry point.

teraskita-05

“Yang akan dilakukan Trump bisa seperti Inggris dengan Brexit. Saat ini Trump mulai mendekati Taiwan untuk menolak China menjadi single majority,” prediksi dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnia UGM yang juga promotor musik jazz.

Selain Tony Prasentiantono, talkshow yang digelar Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Harian Kompas dan disiarkan langsung melalui RRI Pro 3 Yogyakarta itu juga menghadirkan Rektor UGM Prof Ir Dwikorita Karnawati, Ph D, Dr Arie Sujito, dan Direktur CRCS UGM Zainal Arifin Bagir. (rts)