Saat tahun 2015, ia memulai kuliah S2 dengan membawa putranya yang baru berusia 1 tahun. Bersama dengan Ibu, selama setahun ia berkuliah sambil terus menjaga dan memberi ASI pada anaknya. Akhirnya pada tahun kedua, ia terpaksa harus berpisah dengan anaknya karena harus kembali ke Pekanbaru. Walau sedih harus berpisah, tapi cita-cita sebagai dosen harus ia kejar.

Terlepas dari segala kesulitan yang ia alami, Yuli sangat bersyukur bisa bergabung menjadi mahasiswa pascasarjana di UGM. Baginya, di UGM membuatnya menemukan banyak inspirasi baru, semangat belajar, riset dan gairah mengajar yang tinggi.

Keluarga menjadi penyemangat utama dalam menyelesaikan studi lanjut Yuli. (Foto: Yuli)
Keluarga menjadi penyemangat utama dalam menyelesaikan studi lanjut Yuli. (Foto: Yuli)

Dengan pengalaman tersebut, ia berharap bisa membagikan semangat dan inspirasi dari bertemu orang-orang hebat saat kuliah. Dengan iklim pendidikan dan riset yang baik ini juga bisa membakar semangatnya untuk mengabdi sebagai dosen dan riset keilmuan yang akan ia lakukan.

Bagi Yuli, gelar D4 dan S2 pertama di keluarganya yang berhasil ia sandang ini merupakan kerja keras dari banyak orang. Tidak hanya dirinya, tetapi juga dari keluarga dan rekan-rekan yang mendukung prosesnya selama menempuh pendidikan.

Yuli sendiri merupakan lulusan terbaik dengan IPK 4.00 sekaligus tercepat dari Program Pascasarjana Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik. Sebelum mendapat beasiswa S2 di UGM, ia menyelesaikan gelar D4 di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).[Desti]