YOGYAKARTA, KAGAMA – Peristiwa sejarah dapat dijadikan inspirasi dalam proses pembangunan bangsa dan negara. Yogyakarta memiliki episode sejarah yang dikenal sebagai Yogya Kembali pada 29 Juni 1949. Generasi muda saat ini dapat memberikan makna peristiwa Yogya Kembali dengan merevitalisasinya sebagai suatu peristiwa bermakna dalam perjalanan RI.

Yogya Kembali adalah peristiwa sejarah tentang peran Sultan HB IX dan segenap komponen anak bangsa pada masa 1949 dalam memertahankan kemerdekaan dan eksistensi negara dan bangsa Indonesia.

Demikian wacana yang terungkap dari forum Yogya Semesta ke-99, , Rabu (19/7/2017) dalam forum Yogya Semesta ke-99 di Pendapa Kepatihan, Malioboro, Yogyakarta. Forum yang dipandu Pengasuh Yogya Semesta, Heri Dendi mengetengahkan tema “Djokja Kembali: Cermin Generasi Milenial” menampilkan narasumber Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Drs Achmad Charris Zubair, S. U., Koordinator Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putro, Aan Rahmanto, S. S., kandidat Master  Bidang Studi Sejarah FIB UGM, dan Rommy Heryanto, anggota Dewan Pendidikan DIY.

Forum Dialog Budaya Yogya Semesta yang diasuh Heri Dendi memasuki kegiatan ke-99 mengetengahkan tema Djokja Kembali: Cermin Generasi Milenial (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Forum Dialog Budaya Yogya Semesta yang diasuh Heri Dendi (paling kanan, bersurjan) memasuki kegiatan ke-99 mengetengahkan tema Djokja Kembali: Cermin Generasi Milenial (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Pada kesempatan itu Achmad Charris Zubair yang juga Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta mengharapkan peristiwa Yogya Kembali dijadikan momentum untuk memerbaiki bangsa dan negara. “Saya yakin Yogya punya kemampuan dan potensi dalam perjalanan sejarahnya untuk memerbaiki bangsa,” ucapnya optimis.

Menurut Charris, generasi muda saat ini menghadapi tantangan dalam hal menyikapi persitiwa sejarah yang telah terjadi jauh di masa silam. Salah satu contoh, fenomena perang asimetrik yang memunculkan berita hoax yang dishare melalui medsos dengan gencar hingga memengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, sejarah menjadi tidak bermakna.

“Generasi muda sekarang bukan tidak mau belajar sejarah tapi ada kekurangan di kalangan generasi muda belajar sejarah sebagai satu fakta yang tak bermakna apa-apa. Padahal, dalam belajar sejarah adalah memahami nilai dari terjadinya peristiwa. Kita tak bisa menyalahkan mereka karena peristiwa masa silam tidak bisa dibayangkan oleh generasi kita saat ini,” lanjut Charris.

Senada Charris, menurut Widihasto, peristiwa Yogya Kembali seyogyanya dijadikan sebagai pintu masuk untuk kembali merefleksikan seluruh tatanan nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini dan untuk mendatang. [rts]