Yeshua Peraih IPK 4.00: Belajar Itu Kebutuhan, Bukan Kewajiban

312
Mendapatkan IPK 4.00 ternyata tidak menjadi target Yeshua. Foto: Kinanthi
Mendapatkan IPK 4.00 ternyata tidak menjadi target Yeshua. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Meraih IPK 4.00 dan menjadi wakil wisudawan dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, merupakan hadiah tak terduga bagi Yeshua Putra Krisnugraha.

Diakuinya prestasi ini tidak terlepas usaha dan pertolongan dari Tuhan.

“Sebenarnya tidak ada yang terlalu spesial dan aku belajar juga tidak ngoyo,” ujar Yeshua kepada KAGAMA belum lama ini.

Diceritakan Yeshua bahwa selama ini Ia percaya usaha yang diimbangi doa menjadi kunci keberhasilan.

Mendapatkan IPK 4.00 ternyata tidak menjadi target Yeshua.

“Target sebetulnya hanya cumlaude. Jika bisa mendapatkan lebih, itu bonus dari Tuhan,” ungkap pria yang melepaskan status mahasiswanya dalam Wisuda Program Sarjana periode II tahun 2018/2019 ini.

Di samping itu, Yeshua juga mengajukan beasiswa yang memberinya syarat nilai akademik cumlaude.

Ada pun pembagian waktu antara kuliah dan organisasi yang jadi tantangan Yeshua selama menempuh studi.

“Aku banyak memaksimalkan waktu dan pikiranku saat kuliah. Di kuliah minimal dapat 50 persen materi, di rumah tinggal mengulang sisanya. Memaksimalkan tenaga dan pikiran di kuliah. Begitu juga dengan pembagian waktu dengan organisasi,” ungkap wisudawan dari Prodi Pendidikan Dokter itu.

Fokus menjadi hal penting bagi Yeshua. Meskipun demikian, diakui Yeshua ini cukup berat.

Namun, dari sekian cara, Yeshua lebih cocok dengan cara belajar model ini.

Setiap orang mempunyai cara belajarnya sendiri, begitu juga dengan Yeshua. Baginya, ini menjadi cara utama untuk survive.

Selain kuliah dan berorganisasi, tantangan besar lainnya yaitu ketika Yeshua juga harus membagi waktunya untuk bekerja.

Kala itu tahun ke tiga kuliah, Yeshua bekerja sebagai asisten di Departemen Anatomi.

Di lain waktu ia terlibat dengan organisasi Asian Medical Student Association (AMSA), organisasi yang mewakili mahasiswa kedokteran di Asia.

Pikir orang, mahasiswa yang meraih IPK tertinggi melakoni kuliah dengan mulus. Hal ini tak selamanya dirasakan oleh Yeshua.

Diceritakan ketika itu Yeshua melewati masa-masa getir saat ujian.

Sempat tak yakin bisa mengerjakan, Yeshua kemudian pasrah dan akhirnya mendapatkan nilai yang mepet dengan kriteria ketuntasan minimal.