Wiyono: Bersahabat dengan Hutan, Berkawan dengan Masyarakat

23
Jangan lelah belajar, jangan lelah berkarya, dan jangan lelah mengabdi.(Foto: Wiyono)
Jangan lelah belajar, jangan lelah berkarya, dan jangan lelah mengabdi.(Foto: Wiyono)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Lahir dari keluarga petani dan hidup di daerah pedesaan, bukan merupakan penghalang untuk menggapai pendidikan tinggi.

Keinginan yang kuat dan kegigihan dalam berusaha, mendorong asa untuk terus bergerak menuju kenyataan.

Begitulah keyakinan Wiyono muda ketika baru lulus dari SMA Negeri Sooko Mojokerto.

Melihat hampir semua teman SMA-nya sibuk les untuk persiapan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), mendorong Wiyono untuk ikut tes UMPTN pada 1996.

Ia memilih Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada sebagai pilihan pertamanya.

Sejak kecil Wiyono hidup di daerah pedesaan di lereng Gunung Welirang, tepatnya di Desa Kesimantengah, Kecamatan Pacet yang jaraknya sekitar 30 km dari Kota Mojokerto. Sebagai anak petani, ia tidak pernah pergi jauh, apalagi keluar daerah.

Namun ketika dinyatakan lolos UMPTN dan diterima di Fakultas Kehutanan UGM, ia malah bingung karena tidak tahu letak wilayah Yogyakarta.

“Ketika saya tanya kepada Bapak saya, ternyata Bapak saya juga tidak tahu Jogja itu di mana. Bapak saya bilang kalau kamu mau kuliah, ya berangkatlah sendiri.”

“Akhirnya saya nekat pergi sendiri ke Jogja. Pokoke numpak bus Sumber Kencono ngulon,” pokoknya naik bus Sumber Kencono ke barat, ujarnya kepada Kagama, disusul tawa.

Di bawah komandonya, mahasiswa Kehutanan menuntut perubahan terhadap Undang-Undang Kehutanan nomor 5 tahun 1967 supaya lebih pro rakyat.(Foto: Wiyono)
Di bawah komandonya, mahasiswa Kehutanan menuntut perubahan terhadap Undang-Undang Kehutanan nomor 5 tahun 1967 supaya lebih pro rakyat.(Foto: Wiyono)

Sesampainya di Jogja, Wiyono menginap di Musala Al-Mukarromah yang berada tepat di sebelah utara Fakultas Kehutanan UGM.

Akhirnya ia ngekos di sebelah musala tersebut, sembari mengajar ngaji di TPA AL-Mukarromah selama tiga tahun.

Sebelumnya, Wiyono muda tidak pernah bersinggungan langsung dengan hutan.

Setelah kuliah di Jurusan Manajemen Hutan, kecintaannya terhadap hutan terus tumbuh. Ia pun menekuni bidang itu dengan mendalami aspek sosial kehutanan.

Hal inilah yang kemudian mendorongnya mengambil Program Studi Sosiologi di Sekolah Pascasarjana UGM untuk jenjang pendidikan megisternya.

Menekuni bidang Sosiologi, tidak hanya memberinya tambahan ilmu tentang aspek-aspek sosiologis di bidang kehutanan, tetapi juga telah menumbuhkan keberpihakannya kepada masyarakat di sekitar hutan.

Hal inilah yang kemudian mendorongnya untuk menjadi pendamping pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan jati di Kabupaten Madiun, Ngawi, Bojonegoro pada 2002 – 2005 di bawah bimbingan Prof. Hasanu Simon.