Ilmu pengetahuan demikian tidaklah sesuai dengan impian dari Wiratni. Ia bermimpi tentang suatu masa ketika ilmu pengetahuan bisa menjadi bahasa universal bagi manusia. Ibarat mata uang sebagai satuan yang dipahami secara sama oleh tiap orang, ia berharap ilmu pengetahuan juga bisa seperti itu.

Wiratni menjabarkan, ketika semua orang paham ilmu pengetahuan secara menyeluruh, maka segala kesalahan informasi dan perilaku akan berkurang drastis. Hal itu karena setiap orang memiliki pemahaman sama terhadap setiap proses yang terjadi di dunia.

Contoh yang mudah, Wiratni tunjukkan pada perkuliahan di sekitarnya. Mahasiswa sekarang kebanyakan sudah menggenggam informasi di tangannya, yakni dengan smarthphone. Hal itu berbeda dengan dosen, terutama yang golongan tua, yang terbiasa dididik secara analog.

“Dosen yang tidak memahami konteks zaman maka masih akan meminta mahasiswanya untuk menghafal serta mencatat segala materi yang diberikan. Sebaliknya, dosen yang memahami konteks zaman  maka akan lebih mengarahkan mahasiswa ke aspek praktis dari ilmu pengetahuan itu serta prospek yang dapat ia penuhi ke depannya,” terang Wiratni.

Ia melanjutkan bahwa UGM merupakan salah satu universitas yang sudah menerapkan prinsip Science Journalism. Proses komunikasi dengan publik, menurut Wiratni, sudah banyak UGM laksanakan. Ia mencontohkan program Kuliah Kerja Nyata yang dilaksanakan tiap tahun.

“Intinya adalah ilmu pengetahuan bisa dinikmati masyarakat pada umumnya,” tungkasnya. (Humas UGM/Hakam)