Wayang Potehi, Seni dari Tiongkok yang Dipentaskan Hingga ke Pondok Pesantren

26
Pentas Wayang Potehi mewarnai perayaan dies natalis ke-65 Fisipol UGM, Sabtu (26/9/2020). Foto: Ist
Pentas Wayang Potehi mewarnai perayaan dies natalis ke-65 Fisipol UGM, Sabtu (26/9/2020). Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sebuah persembahan diberikan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) UGM pada Sabtu (26/10/2020).

FISIPOL UGM menggelar Anjangsana dan Pertunjukan Wayang Potehi Virtual dalam rangka dies natalis ke-65.

Seorang pegiat Wayang Potehi yang diundang FISIPOL UGM, Toni Harsono, memberikan penjelasan.

Kata Toni, Potehi berasal dari kata “Pou” yang artinya kain, “Te” bermakna kantong, dan “Hi” berarti pertunjukan. Secara sederhana, Potehi adalah wayang kantong (boneka).

“Wayang kantong berasal dari Kota Zhangzhou, Provisi Hokkian (Fujian), Tiongkok,” tutur Toni, Ketua Kelenteng Hong San Kiong, Gudo, Jombang.

Toni Harsono (kiri) Widodo Santoso (kanan). Foto: Ist
Toni Harsono (kiri) Widodo Santoso (kanan). Foto: Ist

Baca juga: Alumnus Fapet UGM Ini Bantu Sejahterakan Peternak Indonesia Lewat Agropreneur

“Menurut penelitian dari Ibu Dani dari ISI Jogja, Potehi sudah ada di Indonesia sejak tahun 1600. Itu tertulis dalam malat (naskah) bahasa Sanskerta.”

“Sampai hari ini potehi masih bisa pentas dan pemainnya banyak dari orang Jawa,” jelasnya.

Toni mengaku, dirinya tertarik dengan Potehi lantaran kakeknya,Tok Su Kwie, adalah seorang dalang dari Tiongkok.

Kakeknya datang ke Indonesia sekitar 1920-an. Ayah Toni, Hok Hong Kie, juga seorang dalang Potehi.

Karena itu, Toni, yang berprofesi sebagai pengusaha emas, tergerak untuk melestarikan Potehi.

Baca juga: Apa Kata Guru Besar Farmasi UGM soal Pemakaian Obat Remdesivir pada Pasien Covid-19?