KAGAMA.CO, BULAKSUMUR  Sekitar tahun 1998 hingga pertengahan tahun 2002, mahasiswa UGM yang berkantong cekak pernah diselamatkan oleh keberadaan “Warung Makan Murah Kagama” (WMMK).

Bagaimana tidak, pada tahun 2002, warung yang terletak di sebelah timur Jalan Bouleuvard ini menyediakan makanan hanya dengan harga Rp500,00 per piring.

Porsinya pun lumayan banyak dan cukup membuat perut kenyang.

Usut punya usut, ternyata miringnya harga di warung ini disebabkan oleh adanya subsidi dari  para anggota Kagama, dan donatur lainnya, dari dalam maupun luar UGM.

Nuansa di warung kagama.(Foto: blog-zainul)
Nuansa di warung kagama. Foto: blog-zainul

“Awalnya, ide pembangunan WMMK disebabkan oleh banyakanya mahasiswa yang nglentruk (loyo) karena kurang makan.”

“Keprihatinan itu lantas menumbuhkan ide bagaimana membuat warung makan murah; lalu di bulan April 1998 diberi modal Kagama sebanyak Rp2,5 juta dan sumbangan lain dari donatur.”

“Kami diberi waktu percobaan 2 minggu dan berhasil,” ujar Ny. Kunto Wibisono, perintis WMMK, seperti dikutip dari tabloid Balkon edisi 4 Maret 2002.

Dengan bantuan 6 karyawan yang bertugas memasak dan para sukarelawan yang bertugas menata parkir, warung ini bisa bertahan selama empat tahun.

Menariknya, warung ini didirikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan perut para mahasiswa.

“WMMK juga ikut memelihara kerukunan umat beragama dengan tetap membuka warung di bulan ramadhan pada sore hari.”

“Di bulan ramadhan yang melayani rata-rata ibu-ibu Kristiani,” ujar perempuan yang juga istri dari Guru Besar Filsafat Prof. Dr. Kunto Wibisono.