Wabah Corona di Mata Guru Besar Kehutanan UGM adalah Obat Kesembuhan Alam Semesta

3338
Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Ki Prof. Dr. Cahyono Agus Dwi Koranto, angkat bicara tentang wabah Corona ditilik dari sisi kebumian. Foto: Ist
Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Ki Prof. Dr. Cahyono Agus Dwi Koranto, angkat bicara tentang wabah Corona ditilik dari sisi kebumian. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada 22 April 2020 diperingati dalam situasi pageblug (wabah) Covid-19.

Demikian refleksi Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Ki Prof. Dr. Cahyono Agus Dwi Koranto, sebagaimana disampaikan kepada Kagama.

Hingga 20 April 2020, telah terjadi kasus sebanyak kurang lebih 2,4 juta yang tersebar di 185 negara.

Jumlah itu mengakibatkan kematian lebih dari 165.000 orang, sedangkan yang telah dapat disembuhkan lebih dari 624.000 orang.

Data yang diperoleh Agus itu membuatnya yakin bahwa pageblug ini telah mengakibatkan bencana kemanusiaan dan kehidupan yang meluas nan tragis.

Akan tetapi, di sisi lain, lelaki kelahiran 1965 ini juga percaya bahwa wabah virus corona justru menyembuhkan lingkungan bumi alam semesta.

Baca juga: Pakar Kependudukan UGM: Jika Mudik Tak Bisa Dibendung, Kasus Covid-19 Bakal Jadi Luar Biasa

Dampak Negatif

Agus mengatakan, sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan sebagai pandemi, banyak negara yang telah mengambil langkah.

Yakni calmdown, softdown maupun lockdown, demi mengurangi secara perlahan maupun drastis hingga mengunci aktivitasnya.

Hal itu supaya mencegah penyebaran virus semakin meluas. Yakni dengan menghindari kerumunan banyak orang.

Euronews melaporkan pada awal April ini setidaknya ada 3,9 miliar manusia (nyaris separuh populasi) yang menjalani lockdown akibat Covid-19,” kata Agus.

“The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan dilakukan Work from Home (WfH), yaitu aktivitas kerja dari rumah.”

“Kegiatan bisnis, pembelajaran, ibadah, konser seni, festival, perjalanan, olahraga dsb untuk sementara harus ditangguhkan,” lanjut Ketua Umum PP PKBTS (Pengurus Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa) ini.

Kondisi seperti yang disebutkan Agus di atas membuat masyarakat era 5.0 dipaksa terbentuk lebih cepat.

Baca juga: Srikandi Sungai Indonesia Ajak Anggotanya Jadi Relawan Pencegahan Covid-19 untuk Keluarga