Kemunculan nama-nama Arab yang belum pernah ada dalam khazanah perbendaharaan nama Arab di Jawa dikatakan Askuri juga menyiratkan semakin luasnya sumber-sumber penamaan. Sumber penamaan tidak hanya lagi bersumber pada otoritas tradisional kiai,tetapi juga dari buku, majalah, koran, dan internet.

“Hal ini menunjukkan semangat zaman dimana otoritas tradisional keagamaan semakin bersaing dengan berbagai media baru yang diintroduksi para intelektual muslim baru yang tidak berbasis pesentren maupun kekuatan industri yang tidak berbasis agama,”paparnya. (Humas UGM/Ika)