“Sebagian nama-nama Arab lainnya lebih terasa moderen dan menduia dengan menggunakan ejaan bahas Inggris,” ujarnya.

Dikatakan Askuri, pertumbuhan nama Arab meningkat pesat sejak akhir abad 20 dan bisa merepresentasikan perubahan umat Islam di Indonesia. Sebelum pertengahan abad 20 hanya sedikit orang tua di Jawa yang memperhatikan makna bagi masa depan anak-anaknya.

“Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan literasi orang tua. Umumnya, bagi komunitas santri yang memiliki hubungan patron-client dengan kiai mendatangi tokah agama tersebut untuk meminta nama yang bermakna bagi anak-anak mereka,” imbuhnya.