UMKM Indonesia Masih Sulit Go Online, Begini Kendala dan Strateginya

100
Amalia mengatakan, sampai saat ini orang masih berpikir bahwa bisnis online sangat mudah. Padahal kenyataannya tak sesederhana itu. Foto: Ist
Amalia mengatakan, sampai saat ini orang masih berpikir bahwa bisnis online sangat mudah. Padahal kenyataannya tak sesederhana itu. Foto: Ist

KAGAMA.CO, JAKARTA – Tren belanja online selama pandemi Covid-19 cukup siginifikan di Amazon, bahkan perusahaan ini sampai menambah 100.000 pegawai. Data dari Global Shopper Study, pengalaman belanja di masa pandemi Covid-19 berubah, termasuk pola konsumsi dan kepuasan konsumsi.

“Pengalaman belanja bergantung pada sistem online. Ada kemudahan pembayaran, antar barang, dan lain-lain,” ujar Amalia Prabowo, Direktur PT Global Entrepreneur & Talent Incubator (GETI).

Hal ini dia sampaikan dalam seminar KAGAMA Inkubasi Bisnis IX, yang bertajuk Business Survival “Memperkokoh Daya Tahan Usaha untuk Kelangsungan Bisnis dalam Situasi Pandemi Covid-19”, pada Sabtu (16/05/2020) secara online.

Acara yang diikuti lebih dari 400 peserta tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP KAGAMA). Bertindak sebagai keynote speaker, Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan RI/Waketum PP KAGAMA.

Selain Amalia, narasumber yang hadir yaitu Rahmat Hidayat, Dosen Fakultas Psikologi UGM dan co-Founder RETA Consulting Indonesia; dan Silih Agung Waseso, Konsultan Revenue Branding; dengan moderator Aji Erlangga, Kadep Peningkatan Kompetensi Alumni UGM.

Baca juga: Selama Ramadan, KAGAMA Batang Gelar Aksi Sosial Setiap Hari 

Amalia mengatakan, sampai saat ini orang masih berpikir bahwa bisnis online sangat mudah. Padahal kenyataannya tak sesederhana itu.

Menurutnya, bisnis online tidak hanya sekadar ‘sampingan’, pengorganisasiannya tidak mudah, sehingga harus dibuat dengan serius.

Menurut pengalamannya selama di GETI sebagai orang yang bergerak di bidang digital marketing, Amalia menemukan bahwa UMKM di Indonesia sangat sulit untuk diajak ‘go online’.

Hanya 4 persen UMKM saja yang mampu. Sedangkan secara keseluruhan, hanya 8 persen atau 64 juta UMKM yang sudah ‘go online’ di Indonesia.

“Perlu pemahaman yang cepat untuk go online. UMKM go online, yang harus diperhatikan, adalah rajin upload produk. Ini mempengaruhi brand usaha mereka.”

Baca juga: Solusi Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi dari Dosen Mikrobiologi Pertanian UGM