Persoalan tersebut mendorong Departemen Perikanan UGM bekerjasama dengan PT. Iroha Sidat Indonesia  melakukan pelepasliaran sidat pada tanggal 9-10 April 2018 di sejumlah sungai Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. Pelepasliaran di Kabupaten Bantul dilakukan di empat lokasi yakni bendungan Blawong, bendungan Puton, bendungan Bendo, dan bendungan Tegal.Sementara di Kabupaten Kulon progo masing-masing dilakukan di sungai Progo desa Salamrejo, bendung Jelok Sentolo, Sungai Serang masing-masing di desa Clereng dan Secang.

“Pelepasliaran sidat kali ini merupakan tahun ketiga yang sudah kita laksanakan,”tuturnya.

Pelepasliaran ikan sidat guna menjaga populasi ikan sidat tetap lestari
Pelepasliaran ikan sidat guna menjaga populasi ikan sidat tetap lestari

Sukardi menyampaikan pelepasliaran dilakukan untuk pengkayaan populasi sehingga diharapkan sidat yang telah dilepas tidak ditangkap terlebih dahulu. Hal ini sebaiknya dilakukan agar sidat yang dilepas dapat menjadi induk dan menghasilkan anakan yang lebih banyak.

 Dalam kesempatan itu Direktur PT. Iroha Sidat indonesia J. Soetanto dan Ir. Sukardi, M.P. perwakilan dari UGM menyerahkan secara simbolis ikan sidat kepada masyarakat dan melakukan pelepasliaran bersama-sama.

Direktur PT. Iroha Sidat Indonesia  J. Soetanto mengatakan bahwa akan terus meningkatkan kerjasama  dengan UGM dan berbagai pihak  untuk  terus berupaya mengembalikan populasi sidat di alam. Hal ini telah menjadi komitmen dari perusahaan dalam upaya menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, terutama ikan sidat. (Humas UGM/Ika)