UGM Gandeng KOBI dan WWF Petakan Biodiversitas Indonesia

17
faktor terbesar darurat keanekaragaman hayati saat ini adalah hilangnya habitat. Foto: Sirajuddin
faktor terbesar darurat keanekaragaman hayati saat ini adalah hilangnya habitat. Foto: Sirajuddin

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Fakultas Biologi UGM teken kerja sama dengan Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) dan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia.

Kerja sama tersebut di bidang Penyusunan Indeks Keanekaragaman Hayati Indonesia (Indonesia Biodiversity Index, IBI) bersama World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia.

Acara yang digelar pada Rabu (29/5/2019) bertempat di Ruang Sidang KPTU lantai 1 Fakultas Biologi UGM.

Dekan Fakultas Biologi Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Sc mengatakan pihaknya sepakat menginisiasi komite Indeks Biodiversity Indonesia guna memetakan potensi biodiversitas Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, juga digelar diskusi yang mengundang sekitar 29 perwakilan dari berbagai universitas di Indonesia yang berkecimpung di dunia biologi.

Pembahasan dalam diskusi terbagi menjadi 8 sesi, yakni 3 sesi pengantar dan 5 sesi panel diskusi.

Budi selaku Ketua KOBI memberikan pengantar terkait awal berdirinya KOBI.

“KOBI didirikan pada tahun 2011 akan tetapi kongres pertama tahun 2016. Kegiatannya mencakup konstruksi kurikulum dan dokumen akreditasi Prodi Biologi,” terangnya.

Biodiversity Emergency

Rizal Maliq selaku CEO WWF Indonesia menambahkan jika saat ini dunia sedang fokus terhadap ancaman iklim, dan salah satunya adalah biodiversity emergency.

“Tahun lalu, terdapat publikasi 1 juta spesies punah dan biodiversitas mulai mendapat perhatian publik terkait urgensi biodiversitas,” terang Rizal.