UGM Gandeng Grab, Siapkan Angkatan Kerja Masa Depan

66
UGM dan Grab berusaha melatih sebanyak 20.000 siswa melalui inisiatif pengembangan talenta teknologi di seluruh wilayah Asia Tenggara. Foto: Humas UGM
UGM dan Grab berusaha melatih sebanyak 20.000 siswa melalui inisiatif pengembangan talenta teknologi di seluruh wilayah Asia Tenggara. Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Demi mendukung revolusi industri 4.0 di Indonesia, UGM membangun kerja sama dengan aplikasi digital Grab.

Keduanya ingin mempersiapkan tenaga ahli yang mendukung, serta mewujudkan Tridarma Perguruan Tinggi.

Hal tersebut direalisasikan dalam bentuk penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Wakil Rektor Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Prof. Dr. Ir. Bambang Agus Kironoto dan Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, pada Jumat (8/11/2019) di ruang Rektor UGM.

Neneng Goenadi mengatakan, pada September lalu, Grab meluncurkan program kontribusi sosial Grab for Good.

Sebab, sebanyak 16 persen generasi muda di Asia Tenggara ingin bekerja di sektor teknologi masa depan.

UGM jalin kerja sama dengan Grab. Foto: Humas UGM
UGM jalin kerja sama dengan Grab. Foto: Humas UGM

Baca juga: Jangan Anggap Tabu, Anak Perlu Menerima Edukasi Seks Sejak Dini

Melalui kemitraan ini, dirinya berharap dapat mendukung salah satu tujuan Grab for Good untuk membangun angkatan kerja yang siap menyambut masa depan.

Bersama dengan institusi pendidikan terkemuka seperti UGM, keduanya berusaha melatih 20.000 siswa melalui inisiatif pengembangan talenta teknologi di seluruh wilayah Asia Tenggara.

Sementara itu, Bambang menyatakan , dalam era revolusi industri 4.0 ini, yang dulu belum terpikirkan sekarang menjadi nyata.

Begitu juga dengan kemungkinan yang sekarang tidak terpikirkan, sekian tahun ke depan menjadi nyata juga.

“Dulu tidak berpikir ada Grab semacam itu. Tidak terpikir kita berkomunikasi jarak jauh, kini cukup dengan skype, whattsap dan sebagainya, kita tidak pernah berpikir soal itu,” ujar Bambang.

Baca juga: Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kabupaten Timor Tengah Selatan Masih Tinggi, Mengapa?