Tutik Sriani Kembangkan Alat Filter Air Hemat Energi

59
Menurut Tutik, dari pada mendatangkan tangki air, lebih baik dananya dialokasikan untuk membuat sumur dalam. Apapun kondisi air yang keluar, nanti masih bisa ditangani dengan filter air. Foto: Kinanthi
Menurut Tutik, dari pada mendatangkan tangki air, lebih baik dananya dialokasikan untuk membuat sumur dalam. Apapun kondisi air yang keluar, nanti masih bisa ditangani dengan filter air. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Salah seorang alumnus Teknik Mesin UGM, Dr. Muslim Mahardika dan Dr. Gunawan Setia Prihandana membuat membran yang berperan sebagai media filter air ketika sedang di Kyoto, Jepang.

Namun, mereka sempat kebingungan untuk menjadikannya sebuah alat, beruntunglah ada Tutik Sriani, Ph.D., sesama alumnus yang membantu mereka mengemas membran menjadi sebuah alat filter air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Sebelumnya, keresahan terhadap air keruh ini muncul ketika Muslim sedang membimbing mahasiswa KKN di Kulonprogo.

Kemudian muncullah inisiatif dari mereka bertiga untuk membuat alat filter yang bisa dipasarkan.

Alat filter ini kemudian diberi nama iiToya, berasal dari kata ‘ii’, bahasa Jepang yang artinya bagus dan kata ‘toya’, bahasa Jawa yang artinya air.

Tutik mengatakan PT Global Meditek Utama (iiToya)  merupakan semi Non Profit Organization (NPO), yang arahnya lebih banyak untuk kegiatan pengabdian masyarakat.

“Kita nggak ingin cari uang di iiToya. Kita hanya ingin memberi akses kepada masyarakat supaya mereka bisa mendapatkan air bersih dengan mandiri,” jelas Tutik kepada KAGAMA, belum lama ini di ruang kerjanya.

Inovasi filter air hemat energi iiToya. Foto: Kinanthi
Inovasi filter air hemat energi iiToya. Foto: Kinanthi

Baca juga: Perubahan Iklim dan Perilaku Manusia Sebabkan Akses Air Bersih Makin Sulit

Tak hanya memproduksi alat, Tutik juga terus melakukan riset tentang kondisi air bersih dari berbagai daerah.

iiToya kemudian membuka campaign bagi responden dari berbagai daerah untuk mengirimkan sampel airnya.

“Waktu Saya buka campaign ini ternyata air yang datang macam-macam. Ada yang seperti air teh, ada yang seperti urin, ada yang berwarna merah kecoklatan, ada yang nampak mengandung minyak, dan sebagainya. Dan ternyata sejak dulu mereka sudah menggunakan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari mereka,” pungkas peneliti sekaligus CEO iiToya itu.

Selama ini Tutik adalah orang yang beruntung tak pernah kesulitan mendapatkan air bersih.

Namun, sejak saat itu, Tutik baru mengetahui jika orang lain masih kesulitan mengakses air bersih, bahkan di kota-kota besar.

Ciptakan Alat yang Hemat Energi

Diceritakan oleh Tutik, mereka bertiga melakukan uji coba pada 2018.

“Bagaimana membran ini bisa jadi produk, bisa dipasarkan. Pada awal 2019 alat ini sudah bisa dijual,” jelas Tutik.

Baca juga: Agar Akademisi UGM Tidak Stres Lalu Bunuh Diri